SURABAYA, Slentingan.com – Permintaan maaf tak cukup hanya diucapkan, apalagi sekadar datang sekali. Orang tua anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dalam kasus kematian ZAA (10), anak penyandang down syndrome di Kecamatan Rungkut, Surabaya, diminta terus menjalin silaturahmi dengan keluarga korban.
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menilai, pendekatan berkelanjutan diperlukan untuk meredakan luka keluarga yang kehilangan anaknya dalam peristiwa yang diduga berkaitan dengan perundungan tersebut.
ZAA ditemukan tergeletak di teras rumahnya dengan wajah membiru dan tali melilit di leher pada 12 September 2026. Dalam kasus ini, dua anak tetangganya berinisial K (10) dan F (8) disebut terkait dengan dugaan perundungan tersebut.
Armuji secara khusus menyarankan orang tua agar tidak berhenti pada kunjungan formalitas. Menurutnya, komunikasi dengan keluarga korban harus terus dibangun sebagai bentuk kepedulian dan upaya memulihkan hubungan kedua keluarga.
“Saya menyarankan kepada orang tua pelaku, terutama yang berinisial K ini, paling tidak supaya bisa sering silaturahmi kepada orang tua korban,” ujar Cak Ji, sapaan akrab Armuji, Selasa, 20 Oktober 2026.
Armuji mengingatkan, kehilangan anak bukan perkara ringan yang bisa diselesaikan hanya dengan sekali datang atau menyampaikan permintaan maaf. Terlebih, keluarga korban sempat menghadapi tudingan yang menyakitkan ketika ayah ZAA dituduh sebagai orang yang menghilangkan nyawa anaknya sendiri.
“Orang kalau cuma datang sekali, apalagi ini anak mereka yang meninggal, supaya keluarga korban juga hatinya pelan-pelan dilembutkan. Apalagi dulu sempat dikambinghitamkan seolah-olah ayah korban yang membunuh anaknya sendiri, itu kan lebih menyakitkan lagi,” tuturnya.
Pernyataan Armuji menjadi pengingat bahwa pemulihan hubungan keluarga tidak bisa dibebankan kepada pihak yang sedang berduka. Kesungguhan untuk meminta maaf harus dibuktikan melalui sikap, kepedulian, dan komunikasi yang konsisten, bukan sebatas kunjungan sesaat.
Di sisi lain, Armuji menyebut kasus tersebut menjadi evaluasi bagi Pemkot Surabaya, terutama dalam memperkuat pendidikan karakter anak. Edukasi mengenai kesehatan mental, psikologi, dan agama dinilai penting agar anak mampu memahami batas perilaku serta membedakan tindakan yang benar dan salah.
“Pemkot Surabaya juga sudah mengambil sikap. Ada suatu pembelajaran untuk memberikan edukasi kepada anak-anak ini, baik itu secara mental, psikologi, agama, agar mereka bisa mengerti mana yang benar dan salah,” pungkasnya. HUM/BOY
