SURABAYA, Slentingan.com – Kabar penting bagi generasi muda Surabaya akhirnya datang. Pemerintah Kota Surabaya resmi mengesahkan APBD 2026, dan di dalamnya terselip satu keputusan berani. Yakni mengalokasikan anggaran khusus untuk memberdayakan Generasi Z.
Bukan basa-basi, ini bukan sekadar angka di kertas. Ini intervensi langsung yang menyasar jantung problem pemuda Surabaya: pengangguran dan kemiskinan.
Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Cahyo Siswo Utomo, menegaskan bahwa anggaran ini bukan program seremonial. Ia menyebutnya sebagai “amunisi strategis” untuk menekan angka pengangguran terbuka dan mengurangi kemiskinan keluarga di kampung-kampung Surabaya.
“Indikator keberhasilannya jelas dua: pengangguran pemuda turun, kemiskinan keluarga menurun. Ketika anggaran ini mengalir sampai RW, hasilnya harus terasa pada akhir 2026,” tegas Cahyo.
Rp35 Juta per RW: Bukan Gimmick, tapi Tanggung Jawab
Anggaran ini dihitung berbasis keluarga namun dieksekusi pada level paling dekat dengan warga: Rukun Warga (RW). Setiap RW dirancang bakal menerima Rp5 juta per bulan selama tujuh bulan, total Rp35 juta, dana segar yang harus benar-benar memantik aktivitas produktif pemuda. Cahyo bahkan memberi peringatan keras:
“Ini untuk pemuda. Saya ulangi, ini untuk pemuda, bukan untuk kebutuhan lain,” sambungnya.
Di banyak tempat, program kepemudaan sering dianggap milik Karang Taruna. Namun kali ini berbeda. Cahyo menegaskan, penerima manfaat justru diperluas, dari Remaja Masjid, komunitas kreatif, kelompok pemuda kampung, hingga tim-tim kecil yang punya gagasan konkret.
Syaratnya? Sederhana: ajukan proposal yang jelas, yang bisa dipertanggungjawabkan sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
“Asalkan tujuannya sejalan dengan visi program, silakan ajukan. Kita butuh kolaborasi,” bebernya.
Cahyo tak menutup mata bahwa tiap RW punya demografi berbeda. Ada yang penganggurannya minim, ada yang tingkat kemiskinan keluarganya relatif kecil. Untuk kondisi seperti ini, ia menekankan pentingnya fleksibilitas dan solidaritas antarkampung.
Dana bisa dialihkan atau disinergikan dengan RW lain dalam satu kelurahan yang lebih membutuhkan. Koordinator kelurahan pun diminta lebih lihai membaca ritme lapangan.
“Bahkan kampung-kampung tematik bisa dipadukan. Saling menguatkan.”
Membangun Ekosistem Ekonomi Pemuda: Produksi, Marketing, hingga Distribusi
Cahyo memotret potensi besar: sebuah ekosistem ekonomi pemuda yang saling menopang. Ada yang fokus produksi.
Ada yang menjadi tim social media marketing.
Ada pula yang mengurus distribusi.
“Harapannya, semua ini saling terhubung. Tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada ekosistem, ada keberlanjutan,” urainya.
Sebagai terobosan baru, ketegangan di lapangan nyaris tak terhindarkan. Namun Cahyo menegaskan: persoalan harus diselesaikan lewat dialog, karena pemuda hari ini sedang memegang tongkat estafet masa depan.
Menjelang 2026: Saatnya Pemuda Surabaya Rapatkan Barisan
Menutup 2025, Cahyo mengajak seluruh elemen pemuda Surabaya untuk mulai bergerak:
memetakan potensi kampung, menghimpun kekuatan, dan merancang program yang benar-benar membumi.
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Kalau mereka bisa berorganisasi dan berkolaborasi, insyaAllah masa depan Surabaya, bahkan bangsa ini, akan jauh lebih baik,” pungkasnya. HUM/BOY
