SURABAYA, Slentingan.com — Pusat kendali digital kebanggaan Kota Surabaya kembali dipertanyakan fungsinya. Dalam inspeksi terbaru, Komisi A DPRD Surabaya mendapati fakta mencengangkan: 39 monitor di CC Room 112 mati total, membuat puluhan titik vital kota tak lagi memiliki pengawasan visual.
Temuan itu disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Komisi A, Pdt. Rio Pattiselanno, yang menilai kondisi tersebut bukan sekadar masalah teknis, tetapi kelalaian serius yang dapat mengancam keselamatan warga.
“Ini pusat kendali kota, bukan ruang pajangan. Kalau 39 monitor mati, berarti 39 titik kota gelap tanpa pengawasan. Dan ini terjadi saat Surabaya menghadapi cuaca ekstrem. Sangat berbahaya,” tegas Rio.
Ia menyoroti bahwa Surabaya sedang berada dalam periode rawan bencana hidrometeorologi: banjir, angin kencang, hingga pohon tumbang. Karena itu, hilangnya pengawasan digital sama saja mengurangi kemampuan kota mendeteksi potensi ancaman secara real time.
“Pengawasan ini menyangkut keselamatan. Ketertiban, keamanan, hingga mitigasi banjir bergantung pada sistem ini. Jangan sampai kota kecolongan hanya karena monitor dibiarkan rusak,” lanjutnya.
Rio mendesak Dinas Kominfo untuk berhenti menunda pekerjaan dan segera melakukan peremajaan total perangkat. Menurutnya, CC Room bukan sekadar ruang penuh layar, melainkan “jantung digital” yang harus selalu siaga.
“Saya minta tindakan cepat, bukan sekadar laporan. CC Room harus kembali berfungsi penuh. Ini jantung layanan digital Pemkot Surabaya, bukan aset yang dibiarkan sekarat,” katanya.
Komisi A menegaskan akan mengawal langsung proses perbaikan untuk memastikan tidak ada lagi celah pengawasan yang bisa membahayakan warga.
Dari sisi mitigasi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti, membenarkan adanya kunjungan DPRD.
Ia mengakui bahwa sebagian fungsi visual memang terganggu, namun menekankan bahwa pihaknya masih bisa mendapatkan laporan lapangan melalui jaringan OPD, kecamatan, dan kelurahan.
“Kami tetap dapat update kondisi dari petugas lapangan. Tapi tentu saja visual langsung dari monitor sangat membantu untuk mempercepat respons,” ujar Linda.
Temuan ini sontak memantik pertanyaan besar: bagaimana mungkin kota sebesar Surabaya membiarkan pusat kendali digitalnya bekerja dengan mata yang “setengah buta”?
Dan DPRD memastikan, masalah ini tidak akan dihentikan sampai semua monitor menyala dan seluruh sudut kota kembali benar-benar terpantau. HUM/BOY
