GRESIK, Slentingan.com — Mega investasi kembali mendarat di Jawa Timur. Pabrik melamin pertama sekaligus terbesar di Indonesia resmi dibangun di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Kamis (9/4/2026).
Namun, di balik gemuruh groundbreaking, Imigrasi langsung pasang kuda-kuda: investasi jalan, pengawasan tak boleh kendor.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjung Perak, Henry Wibowo, turun langsung mendampingi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Timur dalam seremoni yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI secara virtual.
Deretan pejabat elite, mulai Wakil Gubernur Jawa Timur hingga Forkopimda ikut hadir, menegaskan proyek ini bukan kaleng-kaleng. Nilainya besar, dampaknya luas, dan taruhannya jelas: pertumbuhan ekonomi daerah hingga nasional.
Namun Imigrasi tak mau hanya jadi penonton. Di tengah derasnya arus Penanaman Modal Asing (FDI), potensi masuknya tenaga kerja asing (TKA) dalam jumlah besar jadi perhatian serius.
“Kami mendukung penuh investasi. Tapi jangan coba-coba langgar aturan. Setiap orang asing wajib patuh pada hukum keimigrasian—tidak ada toleransi,” tegas Henry Wibowo.
Ia menegaskan, peran Imigrasi kini bukan sekadar stempel izin masuk. Lebih dari itu, Imigrasi menjadi filter sekaligus pengawas agar tak ada celah pelanggaran.
“Pelayanan kami percepat untuk investor dan tenaga ahli. Tapi pengawasan tetap kami jalankan ketat, humanis, dan profesional. Kedaulatan negara tetap nomor satu,” imbuhnya.
Proyek pabrik melamin ini diproyeksikan menjadi magnet baru investasi asing di Jawa Timur. Kebutuhan tenaga ahli dari luar negeri untuk transfer teknologi pun dipastikan meningkat tajam.
Di sinilah Imigrasi Tanjung Perak mengunci peran. Setiap izin tinggal, aktivitas kerja, hingga keberadaan TKA bakal diawasi detail, tanpa kompromi.
Dengan pendekatan “ramah investasi, tegas pengawasan”, Imigrasi memastikan satu hal: investasi boleh deras, tapi aturan tetap keras. Proyek harus jalan, negara tetap berdaulat. HUM/BOY
