SURABAYA, Slentingan.com – Lima tahun setelah merger Pelindo, PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menunjukkan lompatan kinerja melalui penguatan integrasi, digitalisasi, dan inovasi layanan terminal peti kemas.
Mengusung tema “5 Tahun Bersatu, Bersama Kita Maju”, TTL mencatat pertumbuhan signifikan arus peti kemas. Jika pada 2021 volumenya berada di angka 780.160 TEUs, jumlah tersebut melonjak menjadi 2.187.964 TEUs pada 2025.
Pertumbuhan itu berjalan seiring dengan bertambahnya cakupan pengelolaan terminal. Saat ini, TTL mengelola tiga terminal peti kemas, yakni TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian.
Tak hanya mengejar pertumbuhan arus peti kemas, TTL juga membenahi pelayanan kapal. Sejumlah terobosan diterapkan, mulai dari Berthing Priority, Berthing Window, hingga EAZI (Express Anchorage Zone Service).
Hasilnya, rata-rata waktu tunggu kapal berhasil ditekan cukup signifikan, dari sebelumnya 6,67 jam menjadi 1,83 jam.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong David Pandapotan Sirait menegaskan, perubahan di tubuh TTL tidak dilakukan melalui satu program semata, melainkan melalui perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Transformasi bagi kami bukan satu proyek besar yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian continuous improvement,” ujarnya, Rabu, 7 Oktober 2026.
Transformasi juga menyasar sistem digital. TTL memperkuat penerapan Terminal Booking System (TBS) serta Integrated Planning & Control untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengatur arus kendaraan, sekaligus menopang pengambilan keputusan berbasis data.
Memasuki fase berikutnya, TTL mengarahkan pengembangan terminal pada konsep smart, green, dan sustainable. Optimalisasi tiga terminal, peningkatan produktivitas, penguatan digitalisasi, serta pelayanan yang ramah lingkungan menjadi bagian dari langkah perusahaan ke depan. HUM/BOY
