SURABAYA, Slentingan.com – Proyek pembangunan gedung perkantoran PT Wulandaya Cahaya Lestari di Jalan Jenderal Basuki Rahmat 165–167 tak hanya mengubah wajah kawasan, tapi juga memantik keresahan warga.
Bukan semata soal debu dan bising, melainkan absennya komunikasi yang membuat warga merasa ditinggalkan di tengah dampak proyek. Warga terdampak di kawasan Keputran menilai pengembang seolah “jalan sendiri” tanpa membuka ruang dialog yang layak.
Hingga kini, mereka mengaku belum pernah mendapatkan penjelasan resmi, apalagi kepastian siapa yang bertanggung jawab di lapangan.
Binar Dilitanto, perwakilan warga RT 01 RW 02 Kelurahan Keputran, menegaskan bahwa komunikasi dari pihak proyek nyaris tak terasa.
“Kami ini tinggal tepat di depan proyek, tapi tidak ada komunikasi yang benar-benar dibangun. Harusnya ada mediasi yang jelas,” ujarnya.
Dampak di lapangan pun bukan isapan jempol. Aktivitas proyek disebut telah memicu gangguan lalu lintas, kerusakan jalan, hingga potensi risiko keamanan bagi warga sekitar. Namun ironisnya, ketika masalah muncul, warga justru kebingungan harus mengadu ke siapa.
“Kalau jalan rusak, macet, atau ada gangguan keamanan, itu tanggung jawab siapa? Harusnya ada yang bisa dihubungi dan langsung bertindak,” tegas Binar.
Ketiadaan person in charge (PIC) menjadi sorotan utama. Warga menilai, tanpa sosok penanggung jawab yang jelas, proyek ini berjalan tanpa akuntabilitas di mata masyarakat terdampak.
“Kami butuh PIC yang jelas. Jadi kalau terjadi sesuatu, ada yang bertanggung jawab. Jangan sampai warga dibiarkan menghadapi dampak sendiri,” lanjutnya.
Tak hanya soal tanggung jawab, warga juga menuntut kejelasan kompensasi. Mereka tidak meminta berlebihan, namun ingin ada bentuk pertanggungjawaban yang adil dan terukur sesuai dampak nyata yang dirasakan.
Meski sempat memanas, warga masih membuka ruang dialog. Harapan kini bertumpu pada rencana pertemuan antara warga, pihak pengembang, dan pemerintah setempat yang akan dimediasi oleh Kecamatan Tegalsari.
Namun satu pesan sudah disampaikan dengan tegas: pembangunan tidak boleh berjalan dengan mengorbankan warga di sekitarnya.
“Ini belum selesai. Kami masih berharap ada komunikasi yang baik dan solusi yang jelas ke depan,” pungkas Binar. HUM/BOY
