SURABAYA, Slentingan.com – Musik telah lama berhenti. Sorak-sorai ribuan penonton telah berganti sunyi. Lampu panggung yang sempat menerangi malam di kawasan eks Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya kini tinggal hamparan kosong.
Namun, bagi sebagian orang, konser gratis Denny Caknan bukan hanya menyisakan cerita bahagia. Ia meninggalkan luka yang hingga kini belum benar-benar pulih.
Di sebuah ruang perawatan RSUD Dr. Mohamad Soewandhie, suara mesin medis terdengar lebih dominan daripada alunan lagu. Ada korban insiden ricuh konser Soft Launching Creative Hub Surabaya Expo Center (SUBEC) masih berbaring menjalani masa pemulihan.
Tubuh mereka mulai membaik, tetapi trauma atas kepanikan yang terjadi malam itu masih sulit dilupakan. Kamis (16/7/2026), pintu ruang perawatan terbuka. Wakil Wali Kota Surabaya Armuji datang tanpa membawa kemeriahan. Ia membawa perhatian.
Satu per satu korban disapa, tangan mereka digenggam, sementara keluarga yang setia menjaga mendapat penguatan agar tetap tabah menghadapi masa-masa sulit.
Di hadapan para pasien, Armuji memastikan pemerintah tidak akan meninggalkan mereka berjuang sendirian.
“Kesehatan warga adalah prioritas. Pemerintah Kota Surabaya akan memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik sampai sembuh,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun, bagi keluarga yang sejak beberapa hari terakhir lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah sendiri, perhatian seperti itu menjadi penguat di tengah kelelahan.
Malam 5 Juli 2026 seharusnya menjadi malam penuh kegembiraan. Ribuan warga datang untuk menikmati konser gratis Denny Caknan. Mereka ingin bernyanyi bersama, melepas penat, dan menjadi saksi lahirnya wajah baru SUBEC.
Namun, antusiasme yang melampaui kapasitas berubah menjadi kepanikan. Desakan massa di pintu masuk membuat pagar pembatas roboh. Dalam hitungan detik, tawa berubah menjadi jeritan. Orang-orang berusaha menyelamatkan diri, sementara sebagian lainnya terjatuh, terinjak, bahkan tertimpa pagar besi.
Sejak malam itu, sebagian korban belum benar-benar kembali ke kehidupan seperti semula. Ada yang masih harus menjalani perawatan, ada pula yang masih dihantui bayangan detik-detik ketika kerumunan tak lagi bisa dikendalikan.
Bagi Pemerintah Kota Surabaya, tragedi itu menjadi pelajaran yang tak boleh diabaikan. Armuji menegaskan, seluruh penyelenggaraan kegiatan berskala besar akan dievaluasi secara menyeluruh.
Pengamanan, pembatasan jumlah penonton, hingga manajemen akses masuk akan diperketat agar panggung hiburan tidak lagi berubah menjadi ruang duka.
Di luar rumah sakit, kehidupan Kota Surabaya terus berjalan. Jalanan kembali ramai, aktivitas masyarakat kembali normal. Namun di balik riuhnya kota, masih ada beberapa orang yang memilih menghitung hari menuju kesembuhan.
Mereka datang ke konser untuk mencari kebahagiaan. Yang mereka bawa pulang justru luka. Dan kini, yang paling mereka harapkan bukan lagi dentuman musik atau sorak penonton, melainkan satu hal yang sederhana: pulih, lalu kembali memeluk kehidupan seperti sedia kala. HUM/BOY
