SURABAYA, Slentingan.com – DPRD Surabaya bersama Kecamatan Genteng turun langsung ke lapangan, menggencarkan edukasi parkir non-tunai sekaligus menertibkan pelanggaran yang merampas hak pejalan kaki.
Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya, Anas Karno, didampingi Camat Genteng Jeffry, memimpin pemantauan di sejumlah ruas jalan protokol.
Dengan pengeras suara, tim gabungan dari kecamatan, kelurahan, hingga Dinas Perhubungan (Dishub) menyisir titik-titik keramaian, mengedukasi warga soal pembayaran parkir berbasis QRIS, kartu elektronik, hingga voucher.
“Kami tidak ingin hanya duduk di balik meja. Turun langsung seperti ini penting agar tahu persoalan riil sekaligus memberi edukasi yang humanis,” tegas Anas.
Namun di balik sosialisasi itu, Anas menyoroti fakta yang masih mengganggu wajah kota: kendaraan nekat parkir di atas trotoar. Ia menegaskan, tidak boleh ada kompromi terhadap pelanggaran tersebut.
“Trotoar itu hak pejalan kaki, bukan tempat parkir. Kalau dibiarkan, ini sama saja merampas ruang publik,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.
Ia pun mendesak Dishub bertindak tegas terhadap juru parkir (jukir) nakal yang membiarkan praktik tersebut.
Di sisi lain, Camat Genteng Jeffry mengakui perubahan ke sistem non-tunai masih menghadapi kendala, terutama karena belum semua masyarakat terbiasa. Karena itu, pendekatan jemput bola dinilai menjadi solusi paling efektif.
“Kami dorong perubahan kebiasaan dari tunai ke non-tunai. Edukasi langsung di lapangan jadi kunci,” ujarnya.
Ketegasan aparat langsung diuji saat tim menemukan pelanggaran di kawasan Jalan Slamet. Sejumlah kendaraan kedapatan parkir di area terlarang. Petugas Dishub pun bergerak cepat, memeriksa jukir setempat dan menjatuhkan sanksi teguran tertulis.
Jeffry memastikan pengawasan tidak berhenti di sini. Bersama TNI dan Polri, patroli akan diperketat. Jika pelanggaran terus berulang, sanksi lebih keras siap diterapkan, mulai dari tipiring hingga pencabutan izin jukir.
Menutup kegiatan, Anas menegaskan bahwa keberhasilan program ini bukan sekadar meningkatnya transaksi digital, tetapi perubahan nyata di lapangan.
“Ukuran suksesnya sederhana: kota lebih tertib, trotoar kembali ke pejalan kaki, dan pendapatan daerah meningkat. Itu yang kita kejar,” pungkasnya. HUM/BOY
