SIDOARJO, Slentingan.com — Kelancaran layanan Makkah Route di Embarkasi Surabaya tak hanya mempercepat keberangkatan ribuan jemaah haji, tetapi juga menjadi “filter ketat” yang berhasil membongkar praktik haji ilegal.
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Surabaya mencatat, sebanyak 18 calon jemaah haji nonprosedural berhasil digagalkan dalam sepekan pengawasan intensif.
Program Makkah Route, hasil kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi, membuktikan efektivitasnya. Seluruh proses pemeriksaan keimigrasian Arab Saudi kini dilakukan di tanah air.
Tepatnya di Embarkasi Surabaya, sebelum jemaah terbang ke Tanah Suci. Dampaknya, setibanya di Arab Saudi, jemaah tak lagi antre panjang di imigrasi.
Hingga 17 Mei 2026, sebanyak 37.179 calon jemaah haji telah diberangkatkan melalui Bandara Internasional Juanda. Sejak Kloter 1 pada 22 April hingga Kloter 99, seluruh proses berjalan aman, tertib, dan tanpa kendala berarti.
Pada hari terakhir pemberangkatan:
- Kloter 98 (Jember–Lumajang): 380 jemaah
- Kloter 99 (Lumajang): 380 jemaah
Seluruh tahapan, mulai pemeriksaan dokumen, cap keluar wilayah Indonesia, hingga clearance, berjalan mulus berkat sinergi lintas instansi.
Namun di balik kelancaran tersebut, Imigrasi Surabaya juga mengungkap praktik gelap yang mengintai.
Dalam periode 1–8 Mei 2026, petugas berhasil menggagalkan 18 WNI yang diduga hendak berhaji secara ilegal. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai Madura hingga Kalimantan dan Sulawesi, dengan rute “memutar” melalui Surabaya–Kuala Lumpur sebelum menuju Arab Saudi.
Modusnya rapi, tapi terbongkar. Ada yang berpura-pura wisata ke Malaysia, ada pula yang mengaku pekerja dengan bekal visa kerja dan iqomah. Namun hasil pemeriksaan mendalam menunjukkan tujuan sebenarnya: berhaji tanpa jalur resmi.
Lebih mencengangkan lagi, para calon jemaah ini mengaku telah merogoh kocek antara Rp200 juta hingga Rp290 juta. Ironisnya, dokumen krusial seperti tasreh dan nusuk bahkan belum dimiliki dan dijanjikan baru akan diberikan setibanya di luar negeri.
Dalam salah satu kasus, petugas juga mendeteksi penumpang yang masuk daftar Subject of Interest (SOI), bahkan pernah ditunda sebelumnya di Bandara Soekarno-Hatta. Sistem keimigrasian berbasis profiling dan skor risiko menjadi kunci membongkar pola keberangkatan mencurigakan ini.
Kepala Kantor Imigrasi Surabaya, Agus Winarto, menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti keseimbangan antara pelayanan dan pengawasan.
“Makkah Route kami jalankan untuk kenyamanan jemaah. Tapi di saat yang sama, pengawasan kami perketat untuk mencegah praktik nonprosedural yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
Pengawasan dilakukan melalui, pendalaman wawancara, profiling penumpang, pemeriksaan dokumen ketat, dan integrasi sistem antar TPI. Seluruh calon penumpang yang terindikasi langsung ditunda keberangkatannya untuk pemeriksaan lanjutan.
Imigrasi juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur tawaran “haji instan” tanpa antrean. HUM/BOY
