JOMBANG, Slentingan.com – Ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang kian menyasar kalangan remaja menjadi perhatian serius Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri untuk membentengi generasi muda.
Harapannya agar tidak terjebak modus perekrutan kerja ilegal, magang fiktif hingga pengantin pesanan, Imigrasi Kediri menggelar sosialisasi TPPO sekaligus memperkenalkan Sekolah Kedinasan Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan (POLTEKIMIPAS) di SMKN 2 Jombang, Rabu (5/8).
Ratusan perwakilan siswa kelas X, XI, dan XII mengikuti kegiatan yang berlangsung di Aula SMKN 2 Jombang dengan antusias. Selain mendapatkan edukasi mengenai bahaya perdagangan orang, para pelajar juga dikenalkan dengan peluang berkarier sebagai Aparatur Sipil Negara melalui jalur sekolah kedinasan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kepala SMKN 2 Jombang, Amiroh, mengapresiasi kehadiran Kantor Imigrasi Kediri yang untuk pertama kalinya menggelar sosialisasi di sekolah tersebut. Menurutnya, edukasi ini sangat penting mengingat remaja menjadi salah satu kelompok yang rentan menjadi korban TPPO.
“Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan memahami berbagai modus perdagangan orang, seperti pengantin pesanan, program magang fiktif maupun tawaran bekerja ke luar negeri secara nonprosedural. Dengan bekal pengetahuan tersebut, mereka diharapkan lebih waspada dan tidak mudah menjadi korban,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri diwakili Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Tikkim), Nasrullah.
Ia menegaskan sosialisasi ini merupakan implementasi nyata semangat “Imigrasi untuk Rakyat” sekaligus bagian dari Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menitikberatkan pada edukasi masyarakat dan pencegahan TPPO.
Materi utama disampaikan Kasubsi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Atika Aryani Saraswati. Ia menjelaskan tugas dan fungsi Imigrasi, tata cara pembuatan paspor, pentingnya penggunaan paspor sesuai peruntukannya, hingga berbagai modus yang kerap digunakan jaringan perdagangan orang.
Para siswa juga diingatkan agar selalu menggunakan jalur resmi ketika hendak bekerja atau melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sebab, banyak korban TPPO berawal dari iming-iming pekerjaan bergaji tinggi yang ternyata merupakan jebakan sindikat perdagangan orang.
Selain edukasi TPPO, para peserta mendapat penjelasan langsung dari Taruna POLTEKIMIPAS mengenai proses seleksi, pola pendidikan, hingga prospek karier sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Sesi ini mendapat perhatian besar dari para siswa yang aktif mengajukan pertanyaan.
Diskusi berlangsung interaktif. Beragam pertanyaan muncul, mulai dari syarat pembuatan paspor, prosedur keberangkatan ke luar negeri yang legal, hingga tahapan seleksi masuk POLTEKIMIPAS. Sebagai bentuk apresiasi, Imigrasi Kediri memberikan souvenir kepada siswa yang aktif dalam sesi tanya jawab.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat sebagai simbol sinergi antara Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri dan SMKN 2 Jombang, dilanjutkan foto bersama seluruh peserta.
Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Kediri, Antonius Frizky Saniscara Cahya Putra, menegaskan bahwa upaya pencegahan TPPO harus dimulai dari edukasi sejak dini karena pelajar menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menjadi sasaran sindikat perdagangan orang.
“Pencegahan TPPO tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum. Edukasi kepada generasi muda menjadi benteng pertama agar mereka mampu mengenali berbagai modus kejahatan perdagangan orang dan tidak mudah tergiur tawaran bekerja ke luar negeri secara nonprosedural. Kami ingin para pelajar memahami bahwa berangkat ke luar negeri harus melalui jalur yang legal, aman, dan sesuai ketentuan,” tegas Antonius.
Ia menambahkan, pengenalan POLTEKIMIPAS juga menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang berintegritas dan memiliki semangat mengabdi kepada bangsa.
“Kami berharap semakin banyak putra-putri daerah yang tertarik bergabung melalui sekolah kedinasan POLTEKIMIPAS. Ini bukan hanya membuka peluang karier, tetapi juga menjadi wadah mencetak sumber daya manusia yang profesional, berintegritas, dan siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya. HUM/NIS
