SURABAYA, Slentingan.com – Ledakan antusiasme warga dalam gelaran Surabaya Vaganza 2026 bukan sekadar pesta tahunan. Bagi DPRD Kota Surabaya, fenomena ini adalah sinyal keras: rakyat haus hiburan murah, bahkan gratis, di tengah tekanan hidup yang kian nyata.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menilai membludaknya pengunjung dalam rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, mulai Festival Rujak Uleg hingga parade mobil hias, harus dibaca sebagai “alarm sosial” bagi Pemkot.
“Ini bukan sekadar euforia. Ini gambaran bahwa masyarakat butuh ruang bahagia di tengah beban hidup yang tidak ringan,” tegas Fathoni, Minggu (17/5/2026).
Pria yang akrab disapa Mas Toni itu mengingatkan, pascapandemi COVID-19 dan kebijakan efisiensi anggaran, denyut event besar di Surabaya sempat melemah. Padahal, justru di situlah denyut ekonomi rakyat kecil bisa bergerak.
Menurutnya, hiburan gratis bukan hanya soal tontonan, tetapi juga soal perut yang tetap terisi.
“Jangan dilihat sebagai biaya, tapi investasi sosial. Setiap konser, setiap event, itu menghidupkan pedagang kecil. Ada yang jual air mineral, makanan, sampai UMKM yang ikut berputar,” ujar legislator Partai Golkar Surabaya ini.
Ia menyebut konsep ini sebagai strategi “sekali jalan, banyak dampak”, menghibur masyarakat sekaligus menjaga napas ekonomi kelas bawah.
Lebih jauh, Fathoni juga menyoroti sisi lain kehidupan masyarakat urban yang kian sunyi di tengah keramaian. Di era media sosial, banjir informasi, terutama soal ekonomi, kerap memicu kecemasan dan kejenuhan.
“Sekarang orang berkumpul, tapi sibuk dengan gawainya masing-masing. Sepi dalam keramaian itu nyata,” sindirnya.
Menurutnya, hiburan kini cenderung menjadi “barang mahal” yang hanya bisa diakses kalangan tertentu. Mereka yang mampu bisa menikmati live music di kafe, sementara masyarakat bawah hanya bisa memendam penat.
“Kalau tidak ada ruang pelepas tekanan, ini bisa berdampak ke kehidupan sosial, bahkan rumah tangga. Rakyat butuh tempat untuk bernapas,” tegasnya lagi.
Menjelang peringatan Hari Pahlawan November mendatang, DPRD mendesak Pemkot Surabaya tidak kehilangan momentum. Kreativitas harus ditingkatkan, bukan justru dikurangi.
Fathoni mengusulkan agar event ke depan dikemas lebih luas dan inklusif—mulai dari refleksi sejarah, edukasi budaya, doa lintas iman, hingga hiburan musik yang benar-benar merakyat.
Ia bahkan mendorong panggung besar di Balai Kota diisi oleh band-band asli Surabaya lintas genre, sebagai bentuk apresiasi terhadap potensi lokal sekaligus hiburan gratis berkualitas.
“Jangan sampai kota ini ramai event, tapi rakyat kecil hanya jadi penonton kehidupan. Mereka harus ikut merasakan manfaatnya,” pungkasnya. HUM/BOY
