SURABAYA, Slentingan.com — Euforia perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 tak luput dari sorotan tajam legislatif. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, mengingatkan Pemkot agar tak terjebak pada kemeriahan semu tanpa dampak nyata bagi rakyat.
Laila menegaskan, setiap program, terutama event berskala besar, harus menempatkan warga sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton atau objek keramaian.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kegiatan tidak diukur dari ramainya pengunjung, tetapi dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Setiap rupiah dari APBD harus kembali ke rakyat. Festival bukan sekadar hiburan, tapi harus jadi penggerak ekonomi warga,” tegasnya.
Ia menyinggung gelaran Festival Rujak Uleg 2026 di Surabaya Expo Center (SBEC) yang menyedot ribuan orang. Bagi Laila, event semacam itu harus menjadi ruang nyata bagi warga untuk berjualan, berkreasi, dan mendapatkan penghasilan.
“Kalau hanya ramai tapi warga tidak merasakan dampaknya, itu sia-sia. Warga harus jadi subjek, baik sebagai pedagang, pelaku UMKM, maupun penggerak ekonomi di dalamnya,” ujarnya.
Politisi PKB itu juga mendorong agar Pemkot membuka ruang partisipasi seluas-luasnya. Dengan keterlibatan langsung masyarakat, program pemerintah akan lebih membumi dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan arah kebijakan Pemkot sejalan dengan semangat tersebut. Ia menyebut Festival Rujak Uleg kini bukan lagi sekadar pesta kuliner, melainkan simbol guyub rukun warga Surabaya.
“Sing melu ora mung OPD, tapi ono RW, SWK, hotel, kabeh melu. Artine Surabaya iki dibangun bareng-bareng,” ujar Eri dengan logat khas Suroboyoan.
Festival yang digelar sejak sore hingga malam itu menampilkan parade kostum, bazar UMKM, hingga lomba nguleg massal, menjadi potret kolaborasi lintas elemen kota.
Namun Eri mengingatkan, pembangunan kota tak cukup hanya fisik. Nilai kebersamaan dan gotong royong harus tetap menjadi fondasi utama di tengah modernisasi.
Dengan dorongan kritis dari DPRD dan komitmen eksekusi dari Pemkot, Surabaya dituntut tak hanya tampil meriah di panggung festival, tetapi juga benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi warganya. HUM/BOY
