SURABAYA, Slentingan.com — Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, blak-blakan mengakui masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot).
Ia menegaskan, kritik warga bukan ancaman, melainkan “vitamin” untuk mempercepat pembenahan.
Pria yang akrab disapa Cak Ji itu menyebut, derasnya laporan masyarakat—baik lewat media sosial maupun aduan langsung—menjadi alat kontrol sekaligus peta masalah di lapangan.
Dari urusan kebersihan taman hingga saluran air di titik rawan banjir, semuanya masuk radar.
“Setiap laporan kita respons. Hal-hal yang dianggap sepele, seperti kebersihan, justru jadi fokus karena itu yang paling dirasakan warga,” ujar Cak Ji di Balai Kota Surabaya, Minggu (31/5/2026).
Ia menepis anggapan bahwa sidak yang dilakukan Pemkot sekadar pencitraan. Menurutnya, setiap langkah turun ke lapangan berbasis aduan nyata yang diverifikasi.
“Bukan golek-golek kanggo pencitraan. Banyak laporan masuk, termasuk ke WhatsApp pribadi saya. Kita cek benar tidaknya, lalu kita tindak lanjuti,” tegasnya.
Sejumlah persoalan yang disorot antara lain maraknya juru parkir liar dengan tarif mencekik, jalan berlubang, hingga distribusi sampah ke TPS yang tak optimal. Bagi Armuji, persoalan kecil tak boleh diremehkan karena berdampak langsung pada warga yang taat membayar pajak.
“Kelihatannya sepele, tapi ini hak masyarakat untuk dilayani dengan baik,” katanya.
Di akhir, Cak Ji mengingatkan jajarannya agar tidak alergi kritik. Ia menegaskan, Pemkot harus terbuka, tidak baper, dan tidak reaktif terhadap masukan publik.
“Masyarakat berhak mengkritik. Kita tidak boleh baper, tidak boleh emosi. Semua masukan harus ditanggapi serius,” pungkasnya. HUM/BOY
