SURABAYA, Slentingan.com – Pelayanan air bersih Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya kembali disorot. Komisi B DPRD Surabaya mengungkap keluhan warga di sejumlah kawasan Surabaya Utara yang harus menunggu hingga dini hari untuk mendapatkan aliran air yang lebih lancar.
Sorotan itu disampaikan saat Komisi B menggelar rapat dengar pendapat dengan jajaran direksi baru Perumda Air Minum Surya Sembada periode 2026–2029, Selasa (18/8/2026).
Dewan meminta jajaran direksi baru tidak sekadar melanjutkan rutinitas, tetapi segera membenahi persoalan mendasar yang selama ini dirasakan pelanggan. Sebab, bagi masyarakat, air bersih bukan layanan tambahan, melainkan kebutuhan pokok yang seharusnya mengalir secara layak dan konsisten.
Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Yuga Pratisabda Widyawasta, menyampaikan selamat kepada jajaran direksi baru. Namun, ucapan tersebut sekaligus dibarengi pekerjaan rumah besar yang harus segera dituntaskan.
“Harapan kami di hari pertama bekerja langsung gaspol, karena tadi banyak masukan juga dari teman-teman komisi terkait bocornya non-revenue water itu sampai di angka 38 persen,” kata Yuga.
Menurutnya, angka kehilangan air atau non-revenue water (NRW) sebesar 38 persen menjadi persoalan serius. Angka tersebut dinilai masih harus ditekan agar pengelolaan air semakin efisien dan manfaatnya benar-benar dirasakan pelanggan.
Komisi B berharap tingkat NRW bisa ditekan hingga di bawah angka sekitar 30 persen yang menjadi standar acuan Kementerian PUPR.
Tak hanya soal air yang hilang sebelum sampai ke pelanggan, persoalan distribusi juga menjadi sorotan. Yuga menyebut masih ada warga Surabaya Utara yang mengalami kondisi ironis: air baru mengalir lebih lancar ketika sebagian besar masyarakat sudah beristirahat.
“Komisi B memberikan masukan-masukan yang dikeluhkan masyarakat, termasuk Surabaya Utara yang masih mengalami airnya cuma lancar pada waktu dini hari,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknis biasa. Jika pelanggan harus menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan jadwal air mengalir, maka kualitas pelayanan patut dipertanyakan.
Karena itu, direksi baru didorong segera memetakan persoalan jaringan, tekanan air, distribusi, hingga titik-titik yang selama ini menjadi keluhan pelanggan. Targetnya bukan sekadar air kembali mengalir, tetapi memastikan pelayanan berlangsung stabil sepanjang hari.
Sementara terkait pembagian dividen, Komisi B memilih tidak buru-buru menuntut kontribusi lebih besar. Direksi baru diberi kesempatan terlebih dahulu untuk melakukan pembenahan internal dan meningkatkan kualitas layanan.
Yuga menilai secara umum kondisi keuangan perusahaan sudah cukup baik. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih baik sekaligus membuka sumber pendapatan baru.
“Kalau dividen, nanti kita beri kesempatan beliau-beliau bekerja dulu, jadi memperbaiki semuanya. Secara kinerja keuangan sudah bagus. Sekarang fokusnya pelayanan kepada masyarakat dan menambah potensi usaha, potensi pendapatannya,” pungkasnya. HUM/BOY
