SURABAYA, Slentingan.com – Suasana khidmat menyelimuti peringatan Hari Juang Polri ketiga di Surabaya, Jumat (21/8/2026). Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memimpin langsung upacara yang digelar di depan Monumen Perjuangan Polri, Jalan Polisi Istimewa, Tegalsari.
Berdiri di hadapan peserta upacara, Kapolri membacakan kembali naskah Proklamasi Polisi yang 81 tahun silam dikumandangkan Inspektur Polisi Kelas I Mohammad Jasin.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa sejak awal kelahirannya, Polri menempatkan diri sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Dengan suara tegas, Listyo Sigit membacakan: “Untuk bersatu dengan rakyat dalam perjuangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menyatakan Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia. Surabaya, 21 Agustus 1945. Atas nama seluruh warga Polisi, Mohammad Jasin, Inspektur Polisi Kelas I.”
Pembacaan Proklamasi Polisi menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian upacara. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Andika Bhayangkari, penghormatan, serta doa.
Bukan Sekadar Seremoni
Hari Juang Polri bukan sekadar agenda seremonial. Tanggal 21 Agustus menjadi penanda sejarah ketika Polisi Istimewa Surabaya menyatakan sikap berdiri bersama Republik Indonesia, hanya beberapa hari setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kala itu, kondisi keamanan belum sepenuhnya terkendali. Sisa kekuatan Jepang masih berada di berbagai wilayah. Di tengah situasi tersebut, Mohammad Jasin memimpin apel pagi di halaman Markas Polisi Istimewa Surabaya.
Di hadapan pasukannya, ia membacakan Proklamasi Polisi sebagai ikrar bahwa kepolisian berdiri di belakang Republik dan bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Jejak sejarah itu kemudian ditegaskan kembali melalui Keputusan Kapolri Nomor KEP/95/I/2024 tertanggal 22 Januari 2024. Keputusan tersebut menetapkan 21 Agustus sebagai Hari Juang Polri.
Kini, 81 tahun setelah Proklamasi Polisi dikumandangkan, pesan itu kembali digaungkan dari Surabaya: bahwa pengabdian Polri kepada republik tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari sejarah perjuangan dan keberpihakan kepada rakyat. HUM/BOY
