SURABAYA, Slentingan.com – Janji keuntungan hingga 30 persen berujung petaka. Sejumlah warga Surabaya mengaku menjadi korban dugaan penipuan berkedok arisan dan investasi.
Kerugian yang mereka alami mencapai ratusan juta rupiah, bahkan salah satu korban mengaku telah menyetor hampir Rp800 juta yang kini tak kunjung kembali.
Kasus tersebut mencuat setelah para korban mengadu ke Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji. Cak Ji, sapaan Armuji, kemudian turun langsung mendatangi kediaman terduga pelaku, Mourin Chinci Lintong, di kawasan Jalan Wonosari Kidul, Senin (31/8).
Namun, upaya mempertemukan kedua pihak justru menemui jalan buntu. Terduga pelaku tidak berada di rumah saat Armuji datang.
Salah satu korbannya, Lin, mengungkapkan bagaimana dirinya awalnya percaya terhadap pengelolaan arisan tersebut. Ia mulai mengikuti arisan sekitar Februari atau Maret 2025. Selama hampir setahun, aktivitas arisan berjalan lancar sehingga kepercayaan korban semakin kuat.
Masalah mulai muncul ketika pengelola menawarkan skema dana pinjaman dengan iming-iming keuntungan 30 persen.
Menurut Lin, dana tersebut disebut akan digunakan untuk membantu anggota arisan yang ingin memperoleh pencairan lebih awal. Skema itu sempat membuat korban percaya lantaran pembayaran keuntungan pada awalnya masih berjalan.
“Awalnya memang terbayar, saya akui itu. Tapi lama-lama dia pakai nama orang lain macam-macam,” ungkap Lin.
Kecurigaan korban semakin menguat ketika muncul pengajuan dana dalam jumlah besar. Untuk pinjaman bernilai kecil, menurut Lin, biasanya disertai identitas peminjam berupa KTP. Namun, pola tersebut berubah ketika nominal pinjaman mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
“Kalau yang besar-besar seperti Rp100 juta sampai Rp150 juta itu enggak pernah dikasih KTP. Katanya itu teman-temanku sendiri, jadi enggak perlu KTP,” ujarnya.
Lin menduga sejumlah nama yang digunakan dalam pengajuan dana bernilai besar tersebut hanya kedok. Ia bahkan mencurigai pinjaman tersebut fiktif dan mempertanyakan ke mana sebenarnya uang para anggota mengalir.
“Saya duga itu fiktif dan sengaja pakai nama orang lain. Uangnya dipakai sendiri atau buat apa, saya enggak tahu,” tegasnya.
Tak berhenti di skema dana pinjaman, pengelola juga menawarkan produk yang disebut investasi flat. Korban dijanjikan memperoleh keuntungan secara berkala setiap 10 hari.
Menurut Lin, iming-iming keuntungan pada awalnya sekitar 5 persen setiap 10 hari. Besaran keuntungan kemudian disebut meningkat secara bertahap hingga lima kloter atau sekitar 50 hari.
Skema tersebut membuat Lin kembali menaruh dana dalam jumlah besar. Total uang yang telah disetorkannya disebut mencapai hampir Rp800 juta.
“Ada juga yang namanya investasi flat. Kita taruh uang sekali, 10 hari kemudian dapat profit. Dulu awalnya bunga 5 persen per 10 hari, makin lama bunganya makin besar sampai lima kloter atau 50 hari. Saya sendiri sudah masukin sekitar hampir Rp800 jutaan, tapi sampai sekarang macet,” bebernya.
Kini, uang yang telah ditanamkan korban tak kunjung kembali. Persoalan tersebut pun bergulir ke Rumah Aspirasi untuk mendapatkan jalan keluar.
Armuji yang datang langsung ke rumah terduga pelaku tidak menemukan orang yang dicari. Meski demikian, ia memastikan persoalan tersebut tidak berhenti begitu saja.
Armuji berencana mengundang pihak terduga pelaku dan para korban ke Rumah Aspirasi untuk mempertemukan kedua belah pihak sekaligus mencari penyelesaian atas kewajiban pembayaran yang belum dituntaskan.
“Nanti kalau kita undang ke Rumah Aspirasi, mereka suruh datang. Saya coba telepon nanti. Mereka juga harus disuruh bayar utang-utangnya,” tegas Armuji.
Kasus ini kini menjadi perhatian karena menyangkut dugaan kerugian finansial dalam jumlah besar. Para korban berharap uang mereka dapat dipertanggungjawabkan dan persoalan tersebut segera menemukan titik terang. HUM/BOY
