JOMBANG, Slentingan.com – Tambakberas kembali menjadi saksi penting perjalanan Nahdlatul Ulama. Kamis (27/8/2026) malam, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi panggung pembukaan Muktamar ke-35 NU yang akan dibuka langsung Presiden Prabowo Subianto.
Bukan sekadar seremoni organisasi, muktamar kali ini membawa beban sejarah sekaligus agenda besar. Para muktamirin akan menentukan arah perjalanan NU untuk lima tahun ke depan, sekaligus meletakkan fondasi baru ketika organisasi memasuki abad keduanya.
Presiden Prabowo dijadwalkan memberikan amanat setelah Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan khutbah iftitah. Pembukaan dipusatkan di Lapangan Untung Suropati, kawasan Tambakberas, mulai pukul 20.00 WIB.
Sejumlah rangkaian acara akan mengawali pembukaan, mulai lagu Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathon, pembacaan Alquran dan selawat, hingga sambutan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, tuan rumah, ketua panitia, serta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Namun, sorotan utama bukan semata siapa yang membuka muktamar. Kehadiran Presiden menunjukkan betapa strategisnya posisi NU dalam kehidupan sosial, keagamaan, sekaligus kebangsaan Indonesia.
Kembali ke Akar Sejarah
Pemilihan Tambakberas sebagai lokasi muktamar memiliki makna tersendiri. Jombang merupakan salah satu tanah penting dalam sejarah lahir dan berkembangnya NU.
Di daerah ini tumbuh tradisi pesantren yang melahirkan banyak ulama dan tokoh yang turut membentuk wajah Islam Indonesia. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bahkan memiliki hubungan kuat dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh sentral pendirian NU.
Pesantren yang telah berkembang sejak abad ke-19 itu bukan hanya menjadi pusat pendidikan Islam, tetapi juga bagian dari mata rantai sejarah panjang perjuangan NU.
Jombang sebelumnya juga pernah menjadi tuan rumah Muktamar ke-33 NU pada 2015. Kembalinya muktamar ke kawasan tersebut seolah menjadi simbol bahwa NU sedang menengok kembali akar sejarahnya sebelum menentukan langkah lebih jauh di abad kedua.
Di balik nuansa sejarah tersebut, para utusan NU dari berbagai daerah akan membahas persoalan keagamaan, organisasi, program kerja, rekomendasi, hingga kepemimpinan nasional organisasi untuk periode 2026-2031.
Keputusan yang lahir dari Tambakberas akan menentukan bagaimana NU merespons perubahan sosial, perkembangan teknologi, tantangan ekonomi, pendidikan, hingga persoalan keagamaan yang semakin kompleks.
Registrasi Diperketat, Teknologi Jadi Pengawal
Besarnya skala muktamar membuat panitia tidak ingin menyisakan celah dalam proses administrasi peserta.
Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, bersama jajaran panitia turun langsung mengecek kesiapan arena. Ia didampingi Sekretaris Steering Committee Prof Mohammad Nuh, Bendahara Umum PBNU Agus Gudfan Arief dan sejumlah pengurus lainnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah sistem registrasi peserta. Panitia menerapkan sistem digital berbasis barcode yang terintegrasi dengan data peserta.
Gus Ipul bahkan ikut menjalani simulasi mulai mengambil nomor antrean, menunggu panggilan, menjalani verifikasi dokumen hingga pemindaian kode digital.
“Dua hari menjelang pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, saya, Prof Nuh, Gus Gudfan, dan beberapa pengurus PBNU melakukan simulasi registrasi peserta. Luar biasa, kali ini semuanya sudah menyesuaikan dengan tuntutan zaman, berbasis barcode,” ujarnya.
Sistem tersebut tidak berhenti pada barcode. Panitia juga memanfaatkan teknologi berbasis chip dan kecerdasan buatan yang dikembangkan tim santri untuk membantu pengelolaan data peserta.
Langkah ini menjadi penting karena daftar peserta tetap atau DPT telah ditetapkan. Setiap peserta dan peninjau harus memiliki identitas serta status yang sesuai dengan data organisasi.
Dengan sistem tersebut, panitia berupaya menutup peluang munculnya peserta tidak sah maupun pergantian peserta tanpa prosedur.
“Datanya sudah valid, DPT-nya sudah ditetapkan, nama-nama pengurus peserta tertera jelas. Dengan demikian, diharapkan tidak ada peserta susupan atau peserta pengganti. Seluruhnya adalah peserta sah yang memenuhi persyaratan organisasi,” tegas Gus Ipul.
Registrasi dan pengambilan kartu identitas peserta telah dibuka sejak Rabu (26/8). Petugas disiagakan selama 24 jam untuk mengantisipasi kedatangan muktamirin dari berbagai wilayah, termasuk cabang istimewa NU di luar negeri.
Setelah proses verifikasi, peserta langsung diarahkan menuju zona akomodasi sesuai kontingen masing-masing.
Kecepatan persiapan panitia juga menjadi sorotan. Penyelenggaraan muktamar dikebut hanya dalam waktu efektif sekitar 50 hari.
Gus Ipul memberikan apresiasi kepada seluruh tim dan keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang bekerja dalam waktu singkat untuk memastikan seluruh kebutuhan muktamar terpenuhi.
6.500 Banser Dikerahkan
Skala besar muktamar juga berimbas pada pengamanan. Sebanyak 6.500 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) disiapkan untuk mendukung pengamanan kegiatan. Mereka ditempatkan di sejumlah titik, terutama ring kedua dan ketiga serta jalur akses menuju kawasan muktamar.
Pengamanan juga diperkuat lebih dari 100 kamera CCTV yang terhubung dengan pusat kendali. Pergerakan peserta dan situasi di sejumlah lokasi kegiatan dipantau secara terintegrasi.
Setelah pembukaan berakhir, perhatian akan bergeser ke ruang-ruang persidangan.
Mulai Jumat (28/8), muktamirin memasuki agenda pleno dan komisi. Pleno pertama membahas serta mengesahkan jadwal dan tata tertib. Selanjutnya, Pleno II membahas laporan pertanggungjawaban PBNU beserta pandangan umum peserta.
Bukan Sekadar Berebut Kursi
Muktamar ke-35 tidak hanya berbicara tentang siapa yang akan duduk di pucuk pimpinan NU.
Tiga komisi akan membahas Bahtsul Masail ad-Diniyah, masing-masing Al-Waqi’iyyah, Al-Maudlu’iyyah, dan Al-Qonuniyyah. Sementara tiga komisi lainnya membahas persoalan organisasi, program kerja, serta rekomendasi. Di sinilah substansi muktamar diuji.
Bahtsul Masail menjadi ruang bagi ulama untuk menjawab persoalan keagamaan dan sosial yang berkembang. Sementara komisi organisasi dan program akan menentukan bagaimana NU memperbaiki tata kelola serta memperkuat pelayanan kepada warga dan jamaah.
Dinamika paling panas diperkirakan berlangsung Sabtu (29/8), ketika muktamar memasuki tahapan pemilihan kepemimpinan.
Setelah hasil komisi disahkan, forum akan membahas tata tertib pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Usulan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) juga akan ditabulasi.
Pada malam harinya, Sidang Pleno V menjadi salah satu agenda paling menentukan. Kepengurusan PBNU masa khidmah 2021-2026 akan didemisionerkan, kemudian dilanjutkan pemilihan dan penetapan anggota AHWA.
AHWA selanjutnya bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam PBNU periode 2026-2031. Setelah itu, proses pemilihan Ketua Umum PBNU periode yang sama akan berlangsung.
Di tengah potensi panasnya kontestasi, panitia mengingatkan agar perebutan kepemimpinan tidak menenggelamkan agenda yang jauh lebih besar: masa depan NU.
Gus Ipul berharap para peserta tidak hanya sibuk menentukan siapa yang memimpin, tetapi juga mampu melahirkan gagasan yang menjawab tantangan zaman.
“Kami berharap peserta fokus memberikan gagasan terbaik. Sehingga Muktamar Ke-35 yang menjadi muktamar perdana di abad kedua NU dapat menghasilkan keputusan strategis agar jam’iyah kita makin maju, relevan, dan membumi,” katanya.
Menurutnya, NU membutuhkan tata kelola organisasi yang semakin kuat, pelayanan yang lebih baik kepada warga, sekaligus tetap menjadikan tradisi keilmuan ulama sebagai pijakan.
Pada akhirnya, Muktamar ke-35 membawa dua pesan besar. NU diminta tidak tercerabut dari akar sejarah, tetapi juga tidak boleh terjebak di masa lalu.
Dari Tambakberas, para muktamirin akan menentukan siapa yang memegang kemudi NU sekaligus merumuskan kebijakan yang akan membawa organisasi menghadapi lima tahun ke depan.
Muktamar ini pun menjadi lebih dari sekadar agenda pergantian kepengurusan. Ini adalah momentum NU menentukan wajahnya di abad kedua: tetap berakar pada tradisi, tetapi berani menatap masa depan.
“Ini awal abad kedua NU, muktamar kembali ke pangkuan para muassis. Dari Tambakberas, Jombang, semoga ini menjadi muktamar yang menggembirakan, penuh berkah, dan berakhir dengan kelancaran,” pungkas Gus Ipul. HUM/BOY
