SIDOARJO, Slentingan.com – Taman Pintar Juanda JAPFA tak sekadar menawarkan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak. Kawasan edukasi yang mulai dibuka untuk kunjungan siswa sejak akhir Agustus 2026.
Taman itu kini didorong menjadi ruang pembelajaran langsung tentang bagaimana pangan diproduksi, limbah dikelola, hingga tanah dipulihkan.
Konsep regenerative agriculture menjadi salah satu pendekatan yang diperkuat PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) dalam pengelolaan kawasan tersebut.
Bersama Sow N Tell, JAPFA menggelar pelatihan bagi pengelola Taman Pintar Juanda JAPFA pada 20–21 Agustus 2026. Pelatihan tidak hanya membahas teknik budidaya, tetapi juga bagaimana pertanian, peternakan, pengelolaan limbah, dan kesuburan tanah dapat berjalan dalam satu siklus yang saling mendukung.
Sederhananya, apa yang sebelumnya dianggap sebagai limbah tidak serta-merta berakhir sebagai sampah. Sisa dari aktivitas pertanian maupun peternakan diarahkan untuk dimanfaatkan kembali sehingga dapat memberi nilai guna sekaligus membantu menjaga kualitas tanah.
Project Manager Regenerative Agriculture Sow N Tell, Fahmi Aliyudin Khairi, mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjadikan Taman Pintar Juanda JAPFA sebagai ruang edukasi pertanian yang berkelanjutan.
“Model regenerative agriculture di Taman Pintar Juanda JAPFA mampu menjadi lahan edukasi untuk pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Limbah dari budidaya peternakan ayam, peternakan kelinci, maupun limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk membantu mengembalikan kondisi dan kesuburan tanah,” ujar Fahmi.
Menurut dia, konsep tersebut akan semakin mudah dipahami anak-anak karena mereka dapat melihat sekaligus mempraktikkan prosesnya secara langsung.
Taman Pintar Juanda JAPFA memiliki sejumlah area tematik yang dirancang sebagai sarana pembelajaran berbasis pengalaman. Di antaranya area pengenalan pancaindra, Food Forest untuk mengenal tanaman pangan, serta Kitchen Garden yang memperkenalkan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur.
“Selain itu, terdapat berbagai pojok taman yang bisa digunakan sebagai sarana edukasi untuk pengenalan pancaindra, budidaya tanaman pangan di Food Forest, serta tanaman untuk kebutuhan dapur seperti di Kitchen Garden,” jelas Fahmi.
Dari Limbah Jadi Manfaat
Penguatan konsep keberlanjutan juga menyentuh aspek fisik kawasan. Sebagian besar bangunan dan fasilitas di Taman Pintar Juanda JAPFA menggunakan material bambu. Karena itu, pengelola turut dibekali pengetahuan mengenai cara merawat bambu agar fasilitas dapat bertahan lebih lama.
Pelatihan juga mengenalkan ecoenzyme, yakni pemanfaatan kembali sisa bahan organik agar tidak langsung berakhir sebagai limbah.
VP-Head of Social Investment JAPFA, R. Artsanti Alif, menegaskan pembangunan dan penataan kembali Taman Pintar Juanda JAPFA bukan semata menghadirkan tempat edukasi baru. Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan membantu anak-anak memahami kembali dari mana pangan yang mereka konsumsi berasal.
“Dukungan JAPFA untuk membangun dan menata kembali Taman Pintar Juanda JAPFA adalah bagian dari upaya kami untuk mendorong edukasi kepada anak-anak agar mengenali kembali sumber pangan mereka.
Terlebih, pengelolaan pertanian dengan metode regenerative agriculture di Taman Pintar Juanda JAPFA dapat mengajak anak untuk memahami praktik budidaya yang berkelanjutan,” ujar Artsanti melalui sambungan telepon.
Ia menambahkan, keberlanjutan yang dibangun JAPFA tidak berhenti pada aktivitas bercocok tanam.
“Kami juga ingin keberlanjutan di Taman Pintar Juanda JAPFA tidak hanya terlihat dari kegiatan pertaniannya. Karena sebagian besar bangunan di kawasan ini menggunakan bambu, pengelola juga mendapatkan pengetahuan mengenai perawatan bambu agar fasilitas dapat terjaga dan digunakan dalam jangka panjang,” katanya.
“Selain itu, melalui pelatihan ecoenzyme, kami ingin mengenalkan bagaimana sisa bahan organik dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna dan tidak menjadi limbah,” imbuh Artsanti.
Tak Berhenti di Pelatihan
JAPFA bersama Sow N Tell tidak berhenti pada pemberian materi. Pendampingan pengelolaan lahan akan terus dilakukan hingga akhir 2026.
Langkah ini ditujukan agar pengetahuan yang telah diberikan tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam pengelolaan kawasan sehari-hari.
“JAPFA bersama Sow N Tell akan terus mendampingi pengelolaan lahan di Taman Pintar Juanda JAPFA hingga akhir tahun. Pendampingan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengelola agar konsep regenerative agriculture, perawatan kawasan, dan pengelolaan limbah berkelanjutan dapat terus diterapkan dan dikembangkan,” tambah Artsanti.
Dengan pendekatan tersebut, Taman Pintar Juanda JAPFA diarahkan bukan hanya sebagai tempat anak-anak mengenal tanaman dan hewan. Kawasan ini juga menjadi semacam laboratorium terbuka, tempat generasi muda melihat langsung bahwa pangan memiliki proses panjang dan bahwa limbah tidak selalu harus berakhir menjadi sampah.
Dari tanah, tanaman, peternakan hingga pengelolaan sisa produksi, semuanya diperkenalkan sebagai satu ekosistem. Pesannya sederhana: menjaga pangan masa depan berarti juga menjaga tanah, mengurangi limbah, dan memahami bagaimana alam bekerja. HUM/BOY
