SURABAYA, Slentingan.com – Harus viral dulu baru ditangani? Pertanyaan itu layak mengemuka setelah persoalan konsumen Wuling di Surabaya yang berlarut-larut akhirnya mendapat penyelesaian cepat begitu kasusnya menjadi sorotan publik.
Wuling Motors pusat akhirnya turun tangan menangani kasus yang dialami Nancy, konsumen yang mengaku telah melunasi pembelian mobil sejak Januari 2026.
Sebelumnya, Nancy juga telah menyerahkan uang muka pada Desember 2025. Namun, setelah uang dibayarkan, mobil tak kunjung berada di tangannya.
Lebih ironis lagi, ketika Nancy berupaya memperjuangkan haknya, pihak finance dealer setempat justru menyebut kuitansi bermaterai dan berstempel resmi yang dipegangnya sebagai dokumen palsu. Persoalan tersebut juga diwarnai dugaan penyalahgunaan data oleh oknum sales.
Kasus ini menyeret nama oknum sales dealer Wuling Surabaya dari PT Putra Perdana Indoniaga, Raditya Febriyanto.
Nancy sebelumnya mengajukan Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk Wuling Darion. Pilihan unit kemudian sempat berubah. Namun, alih-alih mendapatkan kepastian kendaraan, konsumen justru harus berhadapan dengan persoalan yang berlarut-larut.
Pintu penyelesaian baru seolah terbuka lebar setelah persoalan tersebut masuk ke Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan video mediasinya viral.
Tak lama setelah video tersebut ramai diperbincangkan, Wuling pusat langsung menghubungi Nancy.
“Setelah viral, sekitar dua hari kemudian Wuling pusat telepon saya dan meminta bertemu. Pihak SGMW Wuling Motors dari Jakarta langsung datang menanyakan detail kronologinya,” ujar Nancy di Rumah Aspirasi Cak Ji, Selasa (8/9).
Gerak cepat Wuling pusat itu akhirnya membuahkan penyelesaian. Nancy menerima satu unit mobil sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, meski unit yang diberikan berbeda dari kendaraan yang sebelumnya dipesan.
Tak hanya memberikan kendaraan, Wuling pusat juga menyampaikan permohonan maaf dan berjanji melakukan investigasi. Perbaikan SOP di tingkat dealer dan sales juga disebut akan dilakukan.
“Akhirnya pihak Wuling minta maaf, dia akan segera menginvestigasi, maksudnya akan memperbaiki SOP-nya dari pihak dealer dan juga pihak sales,” ungkap Nancy.
Bagi Nancy, penyelesaian tersebut menjadi titik akhir dari persoalan panjang yang dihadapinya. Karena itu, ia bersama suaminya kembali mendatangi Rumah Aspirasi.
Kali ini Nancy datang bukan untuk mengadu, melainkan mengucapkan terima kasih kepada Cak Ji.
Sementara itu, Armuji mengapresiasi langkah Wuling Motors pusat yang berani mengambil tanggung jawab secara konkret.
“Bentuk tanggung jawab inilah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Kepada Wuling Jakarta saya mengapresiasi yang telah memberikan suatu pertanggungjawaban yang konkret tanpa berbelit-belit memberikan mobil kepada Ibu Nancy,” tegas Cak Ji.
Namun, apresiasi itu sekaligus disertai sentilan keras kepada Wuling Surabaya.
Menurut Armuji, persoalan seperti yang dialami Nancy sejatinya tidak perlu sampai menjadi konsumsi publik apabila sejak awal dealer memberikan respons dan penyelesaian yang cepat.
“Sebenarnya hal semacam ini tidak perlu harus viral dulu kalau memang Wuling Surabaya itu tanggung jawab,” kata Armuji.
Ia juga meminta Wuling pusat tidak berhenti pada penyelesaian kasus Nancy. Konsumen lain yang mungkin mengalami persoalan serupa harus mendapat perhatian.
“Kita juga memohon kepada Wuling untuk segera juga menyelesaikan masalah konsumen yang lain agar merek Wuling tidak jatuh,” tandasnya.
Kasus Nancy menyisakan satu pelajaran pahit: konsumen datang membawa bukti, tetapi penyelesaian justru datang setelah kasus menjadi viral.
Jangan sampai publik menangkap kesan bahwa suara konsumen baru terdengar ketika sudah ramai di media sosial. Sebab, menjaga nama besar merek bukan hanya soal menjual mobil, tetapi juga bagaimana perusahaan berdiri di belakang konsumennya ketika terjadi masalah. HUM/BAD
