SURABAYA, Slentingan.com – Peta politik menuju Pilwali Surabaya 2029 mulai menunjukkan geliat. Nama mantan Ketua DPD Partai Golkar Surabaya Arif Fathoni mulai dikaitkan dengan bursa calon yang berpotensi bertarung memperebutkan kursi Wali Kota Surabaya.
Namun, Golkar belum mau terjebak terlalu dini dalam urusan figur. Partai berlambang pohon beringin itu justru menempatkan konsolidasi internal dan penguatan mesin politik sebagai prioritas.
Ketua DPD Golkar Jawa Timur Ali Mufthi menegaskan, seluruh kader memiliki kesempatan untuk membangun positioning politik. Tetapi, momentum untuk menentukan siapa yang akan didorong dalam Pilwali 2029 belum tiba.
“Kita lihat waktu dan momentum. Sekarang masih fokus di konsolidasi. Siapa pun kader partai boleh memosisikan diri mau ke mana, silakan. Tapi kita fokus konsolidasi dulu,” kata Ali saat menghadiri Rakerda Golkar Surabaya, Minggu (13/9).
Nama Arif Fathoni pun tak luput dari pembicaraan. Ali tidak menampik jika nama mantan Ketua Golkar Surabaya tersebut mulai diperhitungkan untuk maju dalam kontestasi politik di Kota Pahlawan.
Meski demikian, Golkar memberikan pesan yang cukup jelas: jangan bicara terlalu jauh soal Pilwali jika kekuatan politik di parlemen belum diperbesar.
Bagi Golkar, konsolidasi bukan sekadar merapikan struktur organisasi. Kekompakan kader harus bermuara pada peningkatan suara dan kursi legislatif pada pemilu mendatang.
“Ya tentu harus solid, harus kompak, rukun, tentu ujungnya adalah nambah kursi. Nambah kursinya berapa, terserah ketua, ya. Pak Arif (Arif Fathoni),” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa posisi Arif Fathoni di internal Golkar Surabaya tidak hanya dituntut mampu menjaga soliditas organisasi, tetapi juga harus membuktikan kemampuan mengerek kekuatan politik partai.
Ali memastikan perolehan kursi Golkar Surabaya harus meningkat. Namun, dia menyerahkan berapa target kursi yang hendak dibidik kepada kepengurusan di bawah kepemimpinan Arif Fathoni.
“Ya, tentu ada naiklah. Tentu naik, cuma berapanya terserah ketua. Tapi harus berjuang maksimal biar naiknya juga maksimal,” tegasnya.
Dengan demikian, jalan menuju Pilwali Surabaya 2029 tampaknya belum dibuka lebar untuk satu nama. Golkar masih memberikan ruang bagi kader untuk membangun elektabilitas dan positioning masing-masing.
Yang pasti, Arif Fathoni kini menghadapi pekerjaan politik yang lebih konkret. Sebelum berbicara soal kursi wali kota, Golkar Surabaya harus lebih dulu menunjukkan bahwa kursi mereka di parlemen mampu bertambah.
Ali pun menegaskan Rakerda Golkar Surabaya bukan forum untuk sekadar merumuskan keputusan organisasi. Hasilnya harus diterjemahkan menjadi kerja nyata dan dirasakan masyarakat.
“Jadi kita harapkan setelah Rakerda merumuskan beberapa hal yang disepakati oleh semua eksponen Golkar Kota Surabaya, dijalankan secara bersama. Jadi Rakerda adalah jalan untuk bekerja kepada masyarakat,” jelasnya.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan arah strategi Golkar menghadapi pertarungan politik mendatang: perkuat mesin, tambah kursi, baru bicara lebih jauh soal siapa yang paling layak merebut panggung Pilwali Surabaya 2029. HUM/BOY
