By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Slentingan.comSlentingan.com
Aa
  • Beranda
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
Reading: Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia Bantah Terima Uang, Tapi Akui Utang Rp11,5 Miliar untuk Pilkada
Share
Slentingan.comSlentingan.com
Aa
  • Beranda
  • Gaya Hidup
  • Hukum
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Politik
  • Indeks
Search
  • Kategori
    • Nasional
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum
    • Kejaksaan
    • Imigrasi
    • Pertanahan
    • Pemasyarakatan
  • Kategori
    • Ekbis
    • Seni Budaya
    • Gaya Hidup
    • Olahraga
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kerjasama dan Iklan
  • Pedoman Media Siber
© 2023 - Slentingan.com
Hukum

Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia Bantah Terima Uang, Tapi Akui Utang Rp11,5 Miliar untuk Pilkada

By Admin Minggu, 13 Sep 2026
Share
Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia dikawal petugas usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang.
Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia dikawal petugas usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang.

SEMARANG, Slentingan.com – Kursi terdakwa di Pengadilan Tipikor Semarang menjadi panggung bagi Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq untuk membongkar sisi lain kondisi keuangannya.

Di tengah dakwaan dugaan menerima uang miliaran rupiah, Fadia justru mengklaim uang dari sejumlah pihak yang masuk dalam riwayat keuangannya merupakan utang, bukan pemberian.

Fadia menyampaikan bantahan itu saat menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa, Kamis (10/9/2026). Ia bahkan menantang agar seluruh rekening, aset, hingga portofolio investasinya dibuka dan diperiksa.

Menurut Fadia, penelusuran menyeluruh justru akan memperlihatkan bahwa dirinya mempunyai kewajiban kepada sejumlah orang.

“Saya ingin semuanya dibuka. Saya tidak mau ada yang saya tutupi,” tegas Fadia di hadapan majelis hakim yang diketuai Rightmen M.S. Situmorang.

Namun, pengakuan Fadia tentang utang justru memunculkan angka yang tak kecil.

Kepada majelis hakim, ia mengaku memiliki utang kepada Ryan Savero sebesar Rp11,5 miliar. Dari angka tersebut, baru Rp1,5 miliar yang telah dikembalikan. Artinya, masih ada sekitar Rp10 miliar yang disebut belum lunas.

Baca Juga:  Ditetapkan Tersangka, Kepala BPPD Sidoarjo Langsung Ditahan

Lebih mengejutkan lagi, Fadia mengakui uang tersebut berkaitan dengan persiapan menghadapi kontestasi Pilkada.

“Itu persiapan buat pilkada,” ujarnya.

Pengakuan tersebut sebelumnya juga muncul dalam kesaksian suami Fadia, Ashraff Abu.

Bukan hanya utang miliaran rupiah, Fadia turut menjelaskan aliran uang Rp137 juta yang digunakan sebagai uang muka pembelian rumah di kawasan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Rumah itu, kata Fadia, disiapkan sebagai tempat tinggal anaknya yang tengah kuliah di Semarang. Karena mencari rumah dengan harga terjangkau, Fadia meminta bantuan Nur Wachid, Direktur PDAM Tirta Kajen Pekalongan.

Nur Wachid kemudian membayarkan uang muka terlebih dahulu. Tetapi Fadia kembali menegaskan bahwa transaksi tersebut bukan pemberian. Ia menyebutnya sebagai pinjaman yang wajib dikembalikan.

“Rp137 juta itu pinjaman. Dan sudah saya kembalikan ke Nur Wachid,” kata Fadia.

Fadia juga membantah pinjaman tersebut berkaitan dengan jabatan Nur Wachid. Menurut dia, saat itu Nur Wachid memang sudah menjadi direktur dan dinilai memiliki kinerja baik.

Baca Juga:  Windy Idol Dicegah ke Luar Negeri Terkait TPPU

Di persidangan, Fadia juga berusaha mematahkan anggapan bahwa kekayaan yang dimilikinya sebelum menjadi bupati berasal dari pemberian pihak tertentu.

Ia menyebut telah memiliki berbagai instrumen investasi sebelum menduduki jabatan politik, di antaranya reksadana, deposito, saham dan obligasi.

Karena itu, Fadia meminta seluruh rekam transaksi keuangannya diperiksa. Ia mengaku bahkan menggunakan auditor untuk menelusuri kondisi finansialnya.

Bagi Fadia, pemeriksaan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa kekayaannya memiliki sumber yang dapat dijelaskan. Namun, pembelaan itu kini berhadapan langsung dengan konstruksi perkara yang dibangun KPK.

Dalam dakwaannya, JPU KPK menduga Fadia turut serta melakukan tindak pidana korupsi bersama Lingkan Anggi Alfianto, pegawai administrasi PT RNB, dan Siti Hanikatun, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan.

Tak berhenti di situ. Dalam dakwaan kedua, Fadia diduga menerima uang sebesar Rp2,89 miliar dari sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkab Pekalongan sepanjang Juni 2021 hingga Maret 2026.

Baca Juga:  Politikus NasDem Sahroni Penuhi Panggilan KPK

Di sinilah persidangan menjadi pertarungan pembuktian. Fadia mengatakan utang. Jaksa mendakwa adanya penerimaan uang.

Keduanya tentu bukan perkara istilah semata. Status uang tersebut akan ditentukan oleh bukti transaksi, tujuan pemberian, hubungan para pihak, aliran dana, serta keterangan saksi yang dihadirkan di persidangan.

Dengan begitu, tantangan Fadia agar rekening dan investasinya dibuka lebar kini menjadi bagian penting yang harus diuji: apakah benar jejak finansialnya menunjukkan utang dan investasi pribadi, atau justru menguatkan dugaan aliran uang sebagaimana didakwakan jaksa.

Sidang perkara ini pun tak lagi sekadar soal berapa rupiah yang pernah diterima Fadia. Yang jauh lebih menentukan adalah siapa yang memberikan, mengapa uang diberikan, untuk kepentingan apa, dan apakah ada kaitannya dengan kekuasaan yang pernah dipegangnya. HUM/BOY

TAGGED: #KPK, Bupati Pekalongan Nonaktif, Fadia, Fadia Arafiq, Komisi Pemberantasan Korupsi, Pekalongan, Pengadilan Tipikor Semarang, pilkada, Semarang, Utang Pilkada
Admin Minggu, 13 Sep 2026 Minggu, 13 Sep 2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram
Ad imageAd image
BERITA TERBARU
Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni
DPRD Surabaya Minta Penertiban Gudang Buah Tanjungsari Ditunda, Hindari Gesekan Massa
Sabtu, 24 Okt 2026
Petugas memeriksa dokumen milik FD, WN asal Syuria yang diduga bermaslah dengan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin tinggal.
Diduga Manipulasi Data ITAS Investor, WNA Suriah di Juanda Masuk Detensi
Sabtu, 24 Okt 2026
Pengunjung yang dinyatakan positif narkoba pasca razia gabungan dikumpulkan dekat pintu masuk THM.
Club Station Basra Disorot, 17 Pengunjungnya Positif Narkoba saat Razia Gabungan
Kamis, 22 Okt 2026
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji di rumah dinas.
Armuji Sentil Orang Tua ABH Kasus Kematian ZAA, Jangan Cuma Datang Sekali
Rabu, 21 Okt 2026
Ad imageAd image

NASIONAL

Inspektur Jenderal Kemenimipas Komjen Pol Rudi Setiawan

Miras di Klaster Mewah Lapas Cibinong Ternyata Milik Napi Korupsi Jimmy Masrin

Selasa, 6 Okt 2026
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menunjuk Irjen Pol Dekananto Eko Purwono

Sehari Jadi Kapolri, Suyudi Geser Kapolda Jatim, Dekananto Naik Gantikan Nanang

Sabtu, 3 Okt 2026
18 menteri, wakil menteri, serta pejabat strategis negara dilantik dalam reshuffle Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Kamis 1 Oktober 2026.

Reshuffle Kabinet Prabowo: 18 Pejabat Bergeser, Listyo Sigit Tinggalkan Kursi Kapolri

Kamis, 1 Okt 2026
Pegawai Kementerian ATR/BPN mengikuti kegiatan donor darah dalam rangka memperingati Hantaru 2026.

HANTARU Peduli, 300 Pegawai ATR/BPN Donorkan Darah untuk Sesama

Rabu, 30 Sep 2026

BERITA POPULER

Perundungan Bocah Difabel Berujung Kematian, Eri Cahyadi Sentil Orang Tua: Jangan Tunggu Anak Jadi Korban

477 Reklame Liar Ditertibkan, DPRD Surabaya Soroti Pengawasan dan Target Pajak

Bocah Down Syndrome di Surabaya Meninggal Diduga Dibully, Polisi Tetapkan Satu Anak Berstatus ABH

Arisan Meow Ambruk, Mourin Klaim Rugi Rp4,8 Miliar: 33 Member Disebut Tunggak, Isu Dana ke Spa

Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Gandeng BEM, Bahas Narkoba hingga Minuman Keras

Berita Menarik Lainnya:

Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni

DPRD Surabaya Minta Penertiban Gudang Buah Tanjungsari Ditunda, Hindari Gesekan Massa

Sabtu, 24 Okt 2026
Petugas memeriksa dokumen milik FD, WN asal Syuria yang diduga bermaslah dengan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin tinggal.

Diduga Manipulasi Data ITAS Investor, WNA Suriah di Juanda Masuk Detensi

Sabtu, 24 Okt 2026
Pengunjung yang dinyatakan positif narkoba pasca razia gabungan dikumpulkan dekat pintu masuk THM.

Club Station Basra Disorot, 17 Pengunjungnya Positif Narkoba saat Razia Gabungan

Kamis, 22 Okt 2026
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji di rumah dinas.

Armuji Sentil Orang Tua ABH Kasus Kematian ZAA, Jangan Cuma Datang Sekali

Rabu, 21 Okt 2026

© 2023 - Slentingan.com

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kerjasama dan Iklan
  • Pedoman Media Siber
Selamat Datang!

Sign in to your account

Lost your password?