SURABAYA, Slentingan.com – Menguatnya industri manufaktur nasional harus menjadi momentum bagi Surabaya untuk menarik investasi berkualitas. DPRD Kota Surabaya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) tidak sekadar menjadi penonton.
Tetapi bergerak cepat menangkap peluang pertumbuhan industri demi memperkuat ekonomi daerah dan memperluas lapangan pekerjaan bagi warga. Dorongan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni.
Alasan itu menyusul kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai 54,0 pada Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dari 52,4 pada September dan berada di atas ambang ekspansi 50 poin. Kondisi ini menunjukkan aktivitas industri manufaktur nasional masih berada dalam tren pertumbuhan.
Menurut Arif Fathoni, peningkatan kinerja manufaktur nasional harus diterjemahkan menjadi peluang konkret bagi perekonomian Surabaya. Pemkot perlu menyiapkan strategi agar investor semakin tertarik menanamkan modalnya di Kota Pahlawan.
Ia menilai sektor industri pengolahan memiliki posisi penting dalam menopang perekonomian Surabaya. Berdasarkan data BPS Kota Surabaya, sektor tersebut menyumbang 19,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada 2025.
Kontribusi itu menempatkan industri pengolahan sebagai sektor ekonomi terbesar kedua setelah perdagangan.
Bahkan, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 7,85 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Surabaya secara keseluruhan yang tercatat 5,87 persen.
“Ini peluang yang tidak boleh dilewatkan. Pemkot harus mampu membaca arah pertumbuhan industri nasional dan menerjemahkannya menjadi kebijakan yang bisa menarik investasi baru ke Surabaya,” tegas politisi Golkar yang akrab disapa Toni tersebut.
Dari sisi investasi, Surabaya sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat. Data DPMPTSP Kota Surabaya mencatat realisasi investasi hingga Semester I-2026 mencapai Rp23,608 triliun atau sekitar 53 persen dari target tahunan sebesar Rp44,26 triliun. Capaian tersebut berasal dari 68.840 proyek di berbagai sektor usaha.
Namun, DPRD mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tidak boleh hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk.
Lebih penting lagi, investasi harus mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal, serta menggerakkan usaha masyarakat.
Hal ini sejalan dengan data Disperinaker Surabaya yang mencatat penempatan 5.120 tenaga kerja baru hingga Juli 2026, dari target 8.838 orang sepanjang tahun.
Karena itu, DPRD mendorong Pemkot memperkuat kesiapan sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan, dan sertifikasi kompetensi.
Kebutuhan tenaga kerja industri harus diselaraskan dengan kemampuan pencari kerja lokal agar warga Surabaya tidak hanya menjadi penonton ketika investasi baru masuk.
Selain penyerapan tenaga kerja, keterlibatan UMKM lokal juga harus menjadi perhatian. Investor perlu didorong membangun kemitraan dengan pelaku usaha kecil melalui rantai pasok, penyediaan barang dan jasa, hingga sektor logistik dan distribusi.
Dengan pola tersebut, manfaat investasi tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar, tetapi juga mengalir kepada pelaku UMKM dan masyarakat luas.
DPRD juga menekankan pentingnya kepastian perizinan, kemudahan berusaha, serta infrastruktur yang memadai. Ketiga aspek tersebut menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya tarik dan daya saing Surabaya dalam memperebutkan investasi.
Arif Fathoni turut mengapresiasi peran pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian dalam memperkuat struktur industri nasional, memperluas investasi, dan meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia.
“Momentum pertumbuhan manufaktur nasional harus disambut dengan kesiapan daerah. Surabaya perlu memperkuat iklim investasi, menyiapkan tenaga kerja kompeten, dan memastikan UMKM lokal ikut menikmati dampak pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
DPRD Surabaya berharap sinergi kebijakan pemerintah pusat dan daerah tidak berhenti pada peningkatan angka investasi. Ukuran keberhasilannya harus terlihat dari semakin terbukanya lapangan pekerjaan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, serta tumbuhnya ekonomi lokal. HUM/BOY
