SURABAYA, Slentingan.com – Hari Pahlawan bukan sekadar seremoni tahunan, apalagi hanya ritual tabur bunga dan pidato penghormatan. Komunitas Surabaya Membara ingin mengemas dengan berbeda.
Lebih dari itu, perjuangan para pahlawan harus menjadi cermin bagi generasi sekarang, terutama para pemimpin, untuk menjaga persatuan dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Pesan kuat itulah yang mengemuka dalam Pengajian Perang yang digelar Surabaya Membara di kompleks makam Pahlawan Nasional Wage Rudolf (WR) Soepratman, menjelang peringatan 10 November.
Kegiatan bernuansa kebangsaan tersebut menghadirkan pejabat setempat, tokoh masyarakat, dan warga. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Mat Ahmad, pejuang kemerdekaan asal Surabaya yang kini berusia 104 tahun.
Di usianya yang telah menginjak lebih dari satu abad, Mat Ahmad masih menyimpan ingatan tentang kerasnya perjuangan merebut kemerdekaan.
Pengalamannya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil pengorbanan jiwa, raga, dan air mata para pejuang.
Tokoh masyarakat sekaligus tokoh spiritual, Taufik Hidayat, menegaskan bahwa peringatan Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti pada mengenang masa lalu.
Nilai perjuangan harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa, terutama melalui sikap pemimpin yang mampu menjaga kerukunan.
Ia menyoroti pesan Mat Ahmad tentang pentingnya persatuan. Menurutnya, pemimpin seharusnya menjadi teladan dalam merawat kebersamaan, bukan justru membiarkan perpecahan tumbuh di tengah masyarakat.
“Pesan Pak Mat Ahmad sangat jelas, jaga kerukunan. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan kerukunan. Kalau pemimpinnya saja tidak bisa menjaga persatuan, lalu apa yang bisa diteladani masyarakat?” tegas Taufik Hidayat, penggagas Pengajian Perang.
Menurutnya, pesan tersebut sejalan dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, serta nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Kepemimpinan tidak cukup diukur dari jabatan dan kekuasaan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan ketenteraman dan persatuan.
Taufik juga mengingatkan bahwa semangat kepahlawanan sejati tidak pernah berorientasi pada jabatan, proyek, uang, maupun keuntungan pribadi.
“Pahlawan itu berjuang tanpa pamrih. Mereka tidak mencari jabatan, posisi, proyek, ataupun keuntungan materi. Mereka mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Semangat seperti inilah yang seharusnya diwarisi, bukan justru menjadikan kekuasaan sebagai tujuan,” tandas pria yang akrab dipanggil Taufik Monyong ini.
Ia pun mendorong pemerintah lebih sering hadir di tengah masyarakat, membuka ruang dialog, sekaligus menghidupkan pendidikan sejarah perjuangan bagi generasi muda.
Salah satu usulnya adalah menggelar pengajian kebangsaan secara rutin di kompleks makam WR Soepratman, minimal sekali dalam sebulan. Kegiatan itu diharapkan menjadi ruang pembelajaran sejarah, bukan sekadar agenda seremonial.
“Anak-anak muda harus diajak datang ke sini. Minimal sebulan sekali pemerintah menggelar pengajian kebangsaan tentang Perang 10 November. Kenalkan mereka kepada para pahlawan, sejarah perjuangannya, dan semangat pengorbanannya,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Surabaya Membara ingin mengingatkan bahwa api perjuangan tidak boleh padam ditelan zaman.
Sebab, menghormati pahlawan bukan hanya dengan menyebut nama mereka setiap 10 November, melainkan meneruskan nilai perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari. HUM/BOY
