SURABAYA, Slentingan.com – Rutan Kelas I Surabaya atau Rutan Medaeng tak memberi ruang bagi narkoba untuk menembus tembok pengamanan. Sepanjang September 2026, petugas bahkan dua kali menggagalkan upaya penyelundupan narkotika ke dalam lingkungan rutan.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman peredaran barang terlarang di balik tembok rutan masih nyata. Para penyelundup pun terus mencari celah dengan menggunakan berbagai modus untuk mengelabui petugas.
Namun, upaya itu tak selalu berakhir mulus. Salah satu kasus terbaru terungkap saat seorang perempuan berinisial SA, warga Sumenep, Madura, datang untuk membesuk suaminya yang menjalani masa pidana di Rutan Medaeng.
SA diduga mencoba membawa enam paket berisi sabu dengan cara menyamarkannya di dalam makanan. Paket tersebut diselipkan pada sejumlah makanan yang dibawanya, mulai dari masakan bumbu bali, tahu, telur hingga ikan tongkol.
Modus tersebut nyaris menjadikan makanan sebagai jalur masuk narkoba ke dalam rutan. Beruntung, kejelian petugas di Pos Pintu Pengamanan Utama (P2U) berhasil membongkar upaya tersebut sebelum barang haram itu masuk lebih jauh.
Petugas berinisial RAP menjadi salah satu kunci terbongkarnya penyelundupan tersebut. Kecurigaan terhadap barang bawaan dan gerak-gerik pengunjung berujung pada pemeriksaan lebih lanjut hingga ditemukan paket yang diduga narkotika.
Kepala Rutan Kelas I Surabaya Tristiantoro Adi Wibowo menegaskan, pengamanan tidak boleh berhenti pada pemeriksaan administratif. Setiap barang dan pengunjung yang masuk menjadi bagian dari sistem pengawasan untuk memastikan tidak ada celah bagi narkotika maupun barang berbahaya lainnya.
Menurutnya, Rutan Medaeng telah memperkuat pemeriksaan dengan dukungan teknologi berupa X-Ray dan body scanner pada layanan kunjungan.
“Penggunaan alat tersebut bertujuan membantu petugas mendeteksi barang atau benda yang berpotensi membahayakan keamanan dan ketertiban,” ujar Tristiantoro.
Teknologi, lanjut dia, bukan satu-satunya benteng. Pemeriksaan manual tetap dilakukan sebagai bagian dari sistem pengamanan berlapis.
Langkah tersebut untuk mengantisipasi masuknya narkotika, alat komunikasi ilegal, senjata, benda tajam maupun berbagai barang lain yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban rutan.
Pengawasan juga tidak berhenti di pintu masuk. Petugas secara rutin maupun insidentil melakukan razia dan penggeledahan terhadap blok serta kamar hunian warga binaan.
Pola ini menjadi bagian dari deteksi dini untuk memutus potensi peredaran barang terlarang dari luar maupun yang sudah berada di dalam rutan.
Data yang ada menunjukkan, dua kali penggagalan penyelundupan narkotika sepanjang September 2026 membuat catatan Rutan Medaeng semakin mendekati jumlah penggagalan selama 2025 yang tercatat tiga kasus.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa upaya memasukkan narkotika ke dalam rutan bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Modus penyelundupan bahkan dapat menyasar barang-barang yang sekilas terlihat biasa, termasuk makanan untuk warga binaan.
Tristiantoro menegaskan, kewaspadaan petugas menjadi garis depan dalam menutup setiap kemungkinan celah penyelundupan.
“Upaya pencegahan dan deteksi dini terus dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari komitmen mewujudkan pengamanan yang optimal, efektif, dan sesuai ketentuan,” pungkasnya. HUM/BAD
