SURABAYA, Slentingan.com — Isu LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, queer) kembali menjadi perbincangan di ruang publik, namun kali ini penekanannya tidak semata pada aksi massa, melainkan pada pentingnya edukasi masyarakat dalam menyikapi dinamika sosial yang berkembang.
Aliansi Umat Peduli Generasi menilai, langkah paling krusial bukan sekadar penolakan, melainkan membangun kesadaran kolektif melalui pendidikan moral, agama, dan karakter yang berkelanjutan.
Humas aliansi, Muhammad Rizqi Nafis, menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah minimnya pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
“Persoalannya bukan hanya setuju atau tidak setuju. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat, terutama anak muda, mendapatkan edukasi yang utuh tentang nilai moral, sosial, dan budaya bangsa,” ujarnya disela-sela aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut Rizqi, derasnya arus informasi di era digital membuat generasi muda rentan terpapar berbagai ideologi tanpa filter yang memadai. Karena itu, ia menekankan perlunya keterlibatan semua pihak dalam memperkuat literasi publik.
Ia menyebut, keluarga, sekolah, hingga lembaga keagamaan harus mengambil peran aktif sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter generasi.
“Kalau edukasi ini lemah, maka ruang kosong itu akan diisi oleh informasi yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut. Di sinilah pentingnya peran orang tua, guru, dan tokoh masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Rizqi juga mendorong pemerintah untuk tidak hanya hadir dalam bentuk regulasi, tetapi juga memperkuat program edukasi yang menyentuh langsung masyarakat.
Ia menilai pendekatan persuasif dan edukatif akan jauh lebih efektif dalam jangka panjang dibanding sekadar pendekatan represif.
“Kami berharap ada langkah nyata berupa penguatan kurikulum berbasis karakter, sosialisasi nilai-nilai moral, serta literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengawasan di ruang digital yang semakin bebas, sembari tetap mengedepankan edukasi sebagai pendekatan utama.
“Penindakan itu penting, tapi tanpa edukasi, masalahnya tidak akan selesai. Ini soal membangun kesadaran, bukan hanya melarang,” tandasnya.
Aliansi tersebut menegaskan bahwa perhatian mereka berangkat dari kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda.
Oleh karena itu, mereka mendorong adanya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, aparat, serta tokoh agama dan masyarakat dalam memperkuat benteng sosial melalui edukasi yang komprehensif. HUM/BOY
