SURABAYA, Slentingan.com – Nama Dolly yang dulu identik dengan kawasan lokalisasi kini coba dipaksa memiliki wajah baru: sentra ekonomi kreatif yang produknya tak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi berani menatap pasar internasional.
Harapan itu mengemuka dalam rangkaian Klinik UMKM Gotong Royong di kawasan Putat Jaya, eks lokalisasi Dolly, Surabaya. Anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo membuka peluang bagi pelaku UMKM setempat untuk naik kelas hingga menembus pasar ekspor.
Andreas menilai potensi tersebut sangat terbuka. Namun, ia mengingatkan bahwa ekspor tidak cukup hanya dengan keberanian menjual produk ke luar negeri. Kualitas, kesinambungan produksi, legalitas, kemasan, pemasaran, hingga kemampuan memenuhi permintaan dalam jumlah besar harus disiapkan sejak awal.
Pernyataan Andreas itu sekaligus merespons dorongan mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang meminta UMKM Gotong Royong tidak berhenti pada tahap pelatihan dan produksi. Menurut Risma, pelaku usaha yang sudah mulai tumbuh harus mendapatkan akses lebih luas agar produknya benar-benar naik kelas.
“Kalau Mas Andreas bisa bantu untuk ekspor, Insya Allah nanti UMKM Gotong Royong bisa berkembang,” kata Risma dalam sesi tanya jawab Klinik UMKM Gotong Royong, Sabtu (9/8).
Namun Risma mengingatkan, mimpi ekspor tidak boleh membuat pelaku UMKM melupakan pasar domestik.
Baginya, pasar dalam negeri harus terlebih dahulu kuat. Produk harus memiliki konsumen, kualitas yang konsisten, serta kemampuan produksi yang memadai sebelum dibawa ke pasar internasional.
Risma menunjuk sejumlah produk Pahlawan Ekonomi yang telah berkembang sebagai contoh. Di antaranya Enceng Gondok Witrove, Selendang Semanggi, Kopi Jelly De’nil dan Diah Cookies.
Dari kawasan Putat Jaya sendiri, sejumlah UMKM seperti Sandal Hotel/Alas Kaki Mampu Jaya, Batik Jarak Arum hingga Sablon Indana Production juga dinilai memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh.
Dolly pun tidak lagi sekadar bicara tentang masa lalu. Yang sedang dipertaruhkan sekarang adalah apakah kawasan yang pernah dikenal sebagai lokalisasi terbesar itu mampu melahirkan kekuatan ekonomi baru dari tangan warganya sendiri.
Andreas menegaskan, UMKM memiliki posisi vital dalam struktur ekonomi Indonesia. Ia menyebut sektor tersebut menyerap sekitar 90 persen tenaga kerja, dengan sekitar 65 persen pelakunya merupakan perempuan.
“UMKM ini sangat penting di dalam struktur ekonomi Indonesia, karena yang menyerap tenaga kerja itu ada 90 persennya. Jadi sebetulnya Indonesia ini sangat tergantung dari pelaku UMKM,” ujar Andreas.
Karena itu, menurut dia, penguatan UMKM bukan sekadar program pemberdayaan masyarakat. UMKM harus ditempatkan sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Klinik UMKM Gotong Royong sendiri diarahkan untuk menjawab persoalan tersebut. Bersama Dinas Koperasi UMKM Perdagangan Kota Surabaya, program ini mendampingi pelaku usaha mulai dari pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), hak kekayaan intelektual (HAKI), produksi, pemasaran daring hingga pengelolaan keuangan.
Pendampingan juga diperkuat dengan aplikasi UMKM Gotong Royong agar komunikasi antara pelaku usaha dan pendamping tidak berhenti ketika pelatihan selesai.
Persoalan di lapangan pun mulai dibongkar. Dalam sesi tanya jawab, pelaku UMKM mempertanyakan bagaimana produk mereka bisa masuk ke lembaga dan instansi yang lebih luas, termasuk sekolah.
Ada pula yang meminta pelatihan pemasaran digital secara lebih khusus. Sebab, selama ini sebagian pendampingan masih lebih banyak berkutat pada produksi.
Pertanyaan lain justru menyentuh persoalan paling keras dalam persaingan UMKM: bagaimana menjadi pemenang tanpa harus terjebak perang harga yang pada akhirnya justru mematikan usaha sendiri.
Risma meminta pelaku UMKM tidak menggantungkan masa depan usaha hanya pada bantuan instansi pemerintah.
Menurut dia, kekuatan utama tetap berada pada produk. Produk harus memiliki kualitas, identitas dan nilai jual sehingga mampu mencari pasarnya sendiri.
Pengalaman Pahlawan Ekonomi Surabaya menjadi salah satu contoh. Risma pernah mendorong pelaku UMKM memanfaatkan platform digital global agar produk mereka tidak hanya bergantung pada pasar konvensional.
Karena itu, pelatihan pemasaran digital, pengemasan dan branding akan menjadi bagian penting dalam pendampingan lanjutan.
Targetnya jelas: bukan sekadar membuat produk, tetapi membuat produk tersebut dicari pasar.
Selama sepekan, Klinik UMKM Gotong Royong juga menggelar pelatihan bidang craft dan food.
Untuk sektor craft, peserta dilatih membuat dompet, rompi dan alas kaki. Produk yang dihasilkan selanjutnya diarahkan untuk dipasarkan melalui Bazaar, sentra UMKM Pemerintah Kota Surabaya hingga jaringan hotel.
Sedangkan sektor food mendapatkan pelatihan pembuatan nasi kotak, masakan Korea, dim sum dan aneka minuman.
Setelah diperkenalkan melalui Bazaar Kemerdekaan, produk-produk tersebut diarahkan masuk ke Sentra Wisata Kuliner Pemerintah Kota Surabaya sekaligus diperluas melalui aplikasi dan kanal penjualan digital.
Rangkaian kegiatan ditutup melalui Bazaar Kemerdekaan UMKM Gotong Royong pada Sabtu (9/8). Ratusan pelaku UMKM dan warga setempat ikut meramaikan kegiatan tersebut. HUM/BOY
