SURABAYA, Slentingan.com – Belasan tahun penelitian akhirnya menemukan bentuk nyata. Riset Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) yang dimulai sejak 2013 kini tidak lagi berhenti di laboratorium maupun jurnal ilmiah, tetapi telah menjelma menjadi empat produk kosmetik yang mengantongi izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Empat produk hasil hilirisasi riset PUI-PT Skin and Cosmetic Technology (PUI-PT SCT) tersebut diperkenalkan dalam puncak Dies Natalis ke-63 Fakultas Farmasi UNAIR di Pelataran Kantor Manajemen UNAIR Kampus C, Minggu (20/9/2026).
Keempatnya yakni NLC Astrabright Advanced Anti-Aging Serum, Sains4Skin Ultra Hydrating Body Soap, Sains4Skin Astrabright Facial Wash, dan Sains4Skin Q10 Radiant Sun Shield. Produk-produk tersebut disebut telah memenuhi aspek kehalalan dan siap dipasarkan kepada masyarakat.
Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR sekaligus Ketua PUI-PT SCT, Prof. Dr. Dra. apt. Tristiana Erawati Munandar, M.Si., menegaskan bahwa lahirnya empat produk tersebut merupakan hasil perjalanan panjang yang tidak bisa ditempuh secara instan.
“Risetnya sudah lama sekali, sudah mulai tahun 2013, sampai sekarang masih terus digunakan,” kata Prof Erawati.
Salah satu inovasi yang dikembangkan berkaitan dengan teknologi bahan aktif untuk perawatan kulit. Peneliti menghadapi persoalan rendahnya tingkat kelarutan salah satu bahan aktif di dalam air yang berpengaruh terhadap kemampuan penetrasinya ke kulit.
Persoalan tersebut kemudian dijawab melalui pengembangan sistem nano berbasis lipid untuk membantu meningkatkan penetrasi bahan aktif.
“Jadi dibuat sistem nano yang berbasis lipid, sehingga dia bisa masuk ke dalam kulit,” jelasnya.
Teknologi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sejumlah produk dengan fungsi berbeda, mulai dari perawatan anti-aging, perlindungan kulit dari paparan sinar matahari, pembersih wajah hingga sabun badan.
Namun, mengubah hasil penelitian menjadi produk komersial bukan perkara sederhana. Persoalan pendanaan, teknologi produksi hingga keterbatasan fasilitas produksi di kampus menjadi tantangan tersendiri.
Fakultas Farmasi UNAIR akhirnya menggandeng mitra industri kosmetika untuk membawa hasil riset tersebut menuju tahap produksi.
“Kami belum bisa memproduksi di dalam kampus, jadi harus bekerja sama dengan industri kosmetika. Kami mencari mitra yang bisa diajak diskusi untuk bisa memproduksi, karena perlu metode tertentu,” ungkap Prof Erawati.
Setelah melewati proses pengembangan dan kemitraan industri, empat produk tersebut kini telah memiliki merek dan izin edar BPOM.
“Sudah bisa (dijual). Alhamdulillah semua produk ini halal,” tukasnya.
Riset Harus Keluar dari Jurnal
Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Madyan menilai lahirnya empat produk kosmetik tersebut menjadi bukti bahwa riset perguruan tinggi harus memiliki jalan menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Menurutnya, penelitian tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Hasil riset harus didorong menjadi inovasi yang dapat dikembangkan menjadi produk dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Ini merupakan hasil dari upaya-upaya PUI-PT Farmasi untuk menghilirisasi riset yang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa Farmasi Universitas Airlangga,” kata Prof Madyan.
UNAIR, lanjutnya, terus mendorong transformasi menuju world-class entrepreneurial university dengan memperkuat hubungan antara riset, inovasi, dan dunia industri.
“Kita mengarahkan riset yang dihasilkan ini pada hasil, dalam hal ini adalah produk yang merupakan hasil inovasi dari riset yang dilakukan UNAIR,” ujarnya.
Madyan juga mendorong hubungan kampus dan industri tidak berjalan satu arah. Kebutuhan industri dapat menjadi pijakan bagi peneliti untuk mengembangkan solusi berbasis keilmuan, sementara temuan baru dari kampus dapat dikembangkan lebih jauh melalui dukungan industri.
“Industri butuh apa, riset apa dan sebagainya, kami yang bisa mengerjakan. Atau misalnya kami menemukan satu produk yang asli inovasi atau terbaru, mungkin industri bisa memproduksinya,” ucap Prof Madyan.
Empat produk kosmetik tersebut sekaligus menjadi bukti perjalanan panjang hilirisasi riset Farmasi UNAIR: dari penelitian yang dimulai pada 2013, pengembangan teknologi, pencarian mitra industri, hingga melewati proses perizinan.
Riset yang bertahun-tahun digarap akhirnya memiliki wujud yang lebih dekat dengan masyarakat, bukan sekadar tersimpan di laboratorium atau tercatat dalam jurnal. HUM/BOY
